Tuesday 7 November 2017

Pelatihan Personil Laboratorium

2 comments


Dalam ISO 17025, laboratorium harus memiliki proses terdokumentasi untuk: seleksi pegawai; pelatihan; supervisi; otorisasi; dan pemantauan/monitoring terhadap personil yang terlibat dalam kegiatan laboratorium. Personil yang melakukan tugas tertentu harus mempunyai kualifikasi berdasarkan pendidikan, pelatihan, pengalaman yang sesuai dan/atau keterampilan yang ditunjukkan. Untuk personel dengan kompetensi yang belum memadai (sedang menjalani pelatihan), maka pekerjaannya harus disupervisi oleh personel kompeten yang ditunjuk.

Untuk tujuan di atas, laboratorium harus menentukan program dan sasaran pelatihan personil yang dirumuskan sesuai tuntutan pekerjaan sekarang dan yang akan datang.

Thursday 2 November 2017

Review Batch Analisis Sampel Lingkungan

0 comments


Unit dasar untuk pengendalian mutu analitik adalah batch analisis. Prinsip utama untuk mendeskripsikan bath analisis adalah bahwa semua sampel dalam satu batch, baik sampel lapangan dan sampel QC harus ditangani dengan cara yang sama, dan semua data dari setiap analisis harus dimanipulasi dengan cara yang persis sama. 

Persyaratan minimum dari batch analisis sampel lingkungan adalah sebagai berikut;
1) Jumlah sampel (lapangan) dalam batch tidak melebihi 20.

2) Semua sampel (lapangan) dalam batch memiliki matriks yang sama (hampir sama).

3) Sampel QC untuk diproses dengan sampel (lapangan) meliputi:
• Blanko Reagen

• Laboratory Control Sample (LCS)

• Matrix Spiked sampel (lapangan)

• Duplicate Matrix Spiked  sampel (lapangan)

• Sampel yang diidentifikasi sebagai field blank atau trip blank tidak dilakukan spike matriks atau diduplikasi

4) Reagen dengan lot sama digunakan untuk memproses bach sampel

5) Setiap proses dalam analisis dilakukan oleh seorang analis atau oleh satu tim analis (misal satu analis untuk preparasi sampel dan analis lain membaca di alat).

6) Sampel dianalisis secara kontinu dalam jangka waktu tidak melebihi 24 jam antara dimulainya proses sampel pertama dan sampel terakhir dari batch, kalau memungkinkan.

7) Sampel QC harus dianalisis bersamaan dengan sampel lapangan terkait, yang disiapkan bersama mereka.

8) Batch diberi nomor identifikasi unik yang dapat digunakan untuk mengkorelasikan sampel QC dengan sampel lapangan.

9) Batch QC mengacu pada sampel QC yang dianalisis dalam batch sampel (lapangan).

Saat mereview batch analisis sampel air, beberapa hal yang harus dipertimbangkan untuk memeriksa kebenaran analisis (checking correctness of analyses) adalah sebagai berikut;
1. Periksa apakah keseimbangan ion (ion balance) berada dalam spesifikasi. Sebagai catatan, pastikan alkalinitas tidak dihitung lebih dari satu kali misalnya dihitung sebagai total alkalinitas dan alkalinitas bicarbonate.

2. Pastikan rasio TDS yang terukur di alat dengan TDS hasil kalkulasi (measured TDS/calculated TDS) berada pada kisaran 1.0 sampai 1.2.

3. Periksa rasio TDS/konduktivitas pada kisaran 0.55 sampai 0.7.

4. Pastikan jumlah anion dan kation adalah £ TDS.

5. Periksa jumlah anion (atau kation) harus 1/100 dari konduktivitas yang diukur, atau dengan kata lain, 100 × jumlah anion (atau kation), meq/L = (0.9–1.1) EC.

6. Periksa hasil pH yang anomali. Konfirmasi ulang harus dilakukan dengan melakukan duplikasi analisis.

7. Periksa bahwa logam yang 'disaring' kurang dari atau sama dengan logam 'total'.

8. Periksa bahwa alkalinitas tinggi dan asiditas rendah dikaitkan dengan pH tinggi sampel (dan sebaliknya).

9. Periksa apakah karbonat dan atau hidroksida terdeteksi, kondisi pH yang sesuai ada dalam sampel.

10. Periksa adanya anomali konsentrasi tinggi dari elemen 'langka' secara natural. (misal, As, Se, Hg.)

11. Periksa apakah hubungan nitrogen benar (misalnya NH4 £ TKN; NOx + TKN = TN; NH4 £ TN)

12. Periksa apakah hubungan fosfor benar. (Misalnya Reaktif P £ Total P.)


Wednesday 11 October 2017

Cara Menghitung Confidence Interval (CI)

13 comments


Ketika kita melakukan sejumlah pengukuran pada sebuah sampel dan menghitung nilai rata-rata pengukuran tersebut, kita dapat memperkirakan nilai aktual untuk pengukuran tersebut. Meskipun nilai rata-rata ini merupakan perkiraan terbaik dari nilai sebenarnya, namun ini tetap hanya perkiraan. Kita dapat menghitung Confidence Interval (interval kepercayaan) pengukuran ini untuk mengekspresikan ketepatan perkiraan pengukuran kita.

Thursday 5 October 2017

Screening Polymerization Potential Limbah

0 comments


Ruang Lingkup
Prosedur ini meliputi penaksiran potensi polimerisasi limbah. Prosedur ini dapat digunakan untuk limbah cair, lumpur, semi-padat, dan padat.

Prosedur pengujian ini dapat digunakan untuk mendeteksi potensi polimerisasi berbahaya dari limbah yang mengandung atau dicurigai mengandung iso sianat, seperti metilen bis-phenisosianat, metilen diisosianat (MDI), atau toluene diisosianat (TDI).


Prinsip
Reaktifitas limbah ditetapkan dengan penambahan sejumlah sampel ke dalam trietilamin yang berjumlah sama dengan sampel dan pengamatan semua tanda terjadinya reaksi, seperti kenaikan temperature, pelepasan gas, pembentukan gel atau polimerisasi.


Peralatan
1. Beaker atau tabung reaksi

2. Pipet tetes yang dapat dibuang

3. Batang pengaduk gelas

4. Mixer vortex, sebagai alternatif

5. Termometer, 20 hingga 110 oC, dengan ketelitian 0.5 oC


Reagen
Trietilamin, (CH3)N


Prosedur Kerja
1. Tempatkan kira-kira 2 ml sampel ke dalam beaker atau tabung reaksi, dan ukur temperatur sampel

2. Tambahkan kira-kira 2 ml trietilenamin ke dalam sampel dan aduk hingga homogen menggunakan batang pengaduk gelas atau dengan menggunakan mixer vortex.

3. Lanjutkan dengan memonitor temperature campuran selama beberapa menit. Amati dan catat semua tanda terjadinya reaksi, seperti pelepasan gas, asap, penghangusan, pengendapan, pembentukan gel, polimerisasi, atau pembakaran.

4. Jika terdapat salah satu tanda terjadinya reaksi di atas yang teramati, maka sampel bersifat reaktif dan tidak lolos pengujian.


Referensi

ASTM D5058-90

Monday 2 October 2017

Glass Thief Sampler

0 comments


Alat sampling yang paling banyak digunakan untuk pengambilan sampel di dalam drum adalah tabung gelas (glass thief, diameter dalam 6 mm sampai 16 mm, dan panjangnya 48 inci). Alat ini sederhana, hemat biaya, cepat, dan mengumpulkan sampel tanpa harus didekontaminasi.

Pedoman Sampling menggunakan Glass Thief Sampler;

1. Lepaskan penutup wadah sampel.

2. Masukkan tabung gelas hampir ke bagian bawah drum atau sampai lapisan padat/sludge dijumpai, angkat tabung gelas sekitar 10 - 30 cm  dari dasar drum atau lapisan padat/sludge.

3. Biarkan limbah di drum mencapai level alami di tabung.

4. Tutup bagian atas tabung sampling dengan stopper atau ibu jari, pastikan cairan tetap berada di dalam tabung gelas.

5. Lepaskan tabung yang tertutup dengan hati-hati dari drum dan masukkan ujung bawah tabung gelas ke dalam wadah sampel. Hindari cairan tumpah di bagian luar wadah sampel.

6. Lepaskan stopper dan biarkan isi glass thief mengalir seluruhnya ke dalam wadah sampel. Isi wadah sampel sekitar dua pertiga kapasitasnya.

7. Keluarkan tabung dari wadah sampel

8. Tutup wadah sampel dengan rapat dan tempelkan label

Monday 25 September 2017

Reaksi Kimia Pengujian Fosfat

3 comments


Reaksi reduksi dengan asam askorbat

Ammonium heptamolibdat bereaksi dengan ortofosfat menjadi asam fosfomolibdat dalam suasana asam. Keempat atom O dari asam fosfat digantikan oleh empat gugus Mo3O10. Asam fosfomolibdat kemudian direduksi oleh  asam askorbat menjadi molibdenum biru dengan adanya kalium antimonil tartrat.


Reaksi kimia

Pembentukan asam fosfomolibdat

Langkah reaksi untuk pembentukan fosfomolibdenum biru



Reaksi asam askorbat



Asam askorbat mengandung gugus enediol , yaitu ikatan rangkap antara dua gugus hidroksil (-OH) yang berdekatan dan merupakan zat pereduksi yang kuat. Asam askorbat juga mempunyai sifat keasaman yang kuat disebabkan oleh posisi dua gugus OH yang berdekatan pada ikatan rangkap –C =C- (gugus karbonil). Gugus OH ini memiliki sifat mudah melepaskan proton (H+) dalam larutan. Dengan hilangnya hidrogen, zat ini diubah menjadi asam dehidroaskorbat.


Struktur kalium antimonil tartrat



Friday 15 September 2017

Kondisi Akomodasi dan Kondisi Lingkungan Laboratorium

0 comments


Laboratorium harus menyediakan peralatan maupun faslitas kerja untuk menangani suatu pengujian sesuai persyaratannya guna mencapai hasil kerja yang optimal dan bermutu. Kondisi ruangan kerja laboratorium yang memerlukan persyaratan khusus dalam hal suhu, kelembaban, tekanan udara, sterilitas dan lainnya harus dikendalikan. Laboratorium perlu dirancang untuk mengakomodasi alur kerja yang efisien dan menyediakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi karyawan.

Monday 11 September 2017

Jaminan Mutu Hasil Pengujian

1 comments


Sesuai persyaratan ISO 17025 klausul 5.9.1, laboratorium harus memiliki prosedur pengendalian mutu untuk memantau keabsahan hasil pengujian yang dilakukan. Data pemantauan dicatat sedemikian rupa sehingga tren dapat dideteksi, misalnya dengan control chart. Kegiatan pemantauan direncanakan dan dievaluasi sesuai dengan prosedur jaminan mutu hasil pengujian.


Teknik pemantauan mungkin termasuk, namun tidak terbatas pada, hal berikut:

1) Menyertakan bahan acuan bersertifikat (CRM) atau bahan acuan sekunder lain selama rangkaian analisis rutin. Praktik ini, dilakukan secara rutin, juga memungkinkan penggunaan control chart dan pemantauan tingkat presisi yang dicapai laboratorium, dan jika bahan acuan yang sesuai tersedia, untuk evaluasi akurasi yang dicapai pada berbagai tingkat konsentrasi.

2) Berpartisipasi dalam uji banding antar laboratorium (correlation test) atau program uji profisiensi (proficiency test). Hal ini memungkinkan laboratorium dapat membandingkan kinerjanya dan komparabilitas datanya terhadap kelompok yang lebih luas yang terlibat dalam pengujian yang sama. Ini menyediakan mekanisme peringatan yang berguna untuk setiap kesalahan/eror dalam teknik, operator atau peralatan yang mungkin tidak terlihat. Program semacam itu juga menyediakan mekanisme estimasi reprodusibilitas untuk pengujian tertentu.

3) Replikasi pengujian menggunakan metode yang sama (atau berbeda) oleh operator yang sama. Hal ini memungkinkan perkiraan repeatabilitas yang dicapai oleh operator tersebut. Hal ini dapat dilakukan baik diketahui sepenuhnya oleh operator atau dengan penyampaian terprogram dari sampel yang sebelumnya diuji yang diidentifikasi ulang dengan tepat (blind sample).

4) Pengujian ulang pada sampel yang masih ada oleh dua atau lebih operator. Hal ini memungkinkan untuk memperkirakan presisi antar operator yang dicapai di laboratorium dan untuk mengidentifikasi bias yang signifikan pada hasil individual operator.

5) Korelasi hasil untuk karakteristik yang berbeda dari suatu sampel



Prosedur untuk memantau pengendalian mutu, termasuk kriteria keberterimaan dan tindakan perbaikan, mencakup:

a. Penggunaan reagen dan standar dengan mutu yang sesuai

b. Langkah-langkah untuk memantau kemampuan metode uji seperti batas deteksi metoda (MDL), dan linearitas

c. Penggunaan initial calibration, initial calibration verification (ICV), continuing calibration verification (CCV), dan CRM untuk memantau keakuratan metode uji

d. Penggunaan laboratory control standard (LCS) untuk memantau keakuratan kinerja laboratorium

e. Penggunaan matrix spike untuk memantau bias matriks


Friday 8 September 2017

Cara Menghitung Standar Adisi dengan Excel

5 comments


Pada postingan kali ini membahas cara menghitung standar adisi dengan Excel, standar adisi ini digunakan untuk menghilangkan gangguan matriks pada saat pengujian.

Ada beberapa persyaratan untuk penerapan metode standar adisi;
• Standar harus cukup pekat, sehingga volume standar yang ditambahkan sedikit dibandingkan dengan larutan sampel agar matriks sampel tidak banyak berubah

• Standar yang ditambahkan harus dapat meningkatkan sinyal analitis dengan faktor 1.5 sampai 3.

• Linearitas dan homogenitas varians harus ada pada rentang kerja.

Prosedur standar adisi melibatkan pembuatan beberapa larutan yang mengandung sampel yang tidak diketahui kadarnya, kemudian ditambahkan standar (yang diketahui kadarnya) dengan volume berbeda.

Misalnya, lima labu ukur 100 mL masing-masing diisi dengan 80 mL sampel, kemudian ditambahkan standar dalam jumlah yang berbeda, seperti 0, 4, 8, 12 dan 16 mL. Labu ukur kemudian ditera menggunakan air demin dan diaduk hingga homogen, lalu diukur menggunakan instrument lab.Pada contoh di bawah, standar yang digunakan (Cstd) memiliki konsentrasi 4 mg/L


Contoh perhitungan Standar Adisi

Berikut ini cara menghitung Standar Adisi menggunakan excel;

1. Buka program excel

2. Input parameter sebagai berikut;
• Konsentrasi standar (Cstd) yang digunakan pada sel C5

• Jumlah volume sampel (Vunk) pada sel C6

• Labu ukur (Vflask) yang digunakan pada sel C7

• Volume standar yang ditambahkan pada sel B10 – B14

3. Pada sel C10, masukkan formula =($C$5*B10)/$C$7 untuk menghitung Csa, sesuai rumus di bawah;


4. Letakkan kursor pada sel C10, sehingga muncul tanda plus (+) pada ujung kanan bawah, kemudian roll kursor ke bawah sampai sel C14, sehingga didapat hasil copy formula sebagai berikut;

5. Masukkan respon alat pada sel D10 – D14


6. Hitung slope, intercept, dan X-intercept dengan formula sesuai gambar di bawah


7. Buat kurva hubungan antara Csa dengan respon alat dengan cara sebagai berikut;
a. Kita perlu menambahkan satu data saat y=0, maka ketik formula =C18 pada sel C15 dan ketik 0 pada sel D15

b. Tempatkan kursor pada sel C10 – D15

c. Klik menu insert, Charts, pilih Scatter


d. pilih Scatter with Straight Lines and Markers

e. Sehingga muncul grafik seperti di bawah

f. Lakukan pengaturan pada sumbu X dan Y, sehingga diperoleh kurva cantik seperti di bawah, perpotongan garis kurva dengan sumbu X adalah konsentrasi sampel yang terbaca di alat (belum dikalikan faktor pengenceran)

8. Hitung konsentrasi sampel (C0) sesuai formula di bawah;


Jadi, konsentrasi analit di dalam sampel adalah 0.4889 mg/L

Wednesday 6 September 2017

Reaksi Kimia Pengujian Fluorida dengan SPADNS

1 comments


Prinsip Analisis

Larutan SPADNS [natrium 2-(para sulfofenilazo) 1,8-dihidroksi-3,6-naftalen disulfonat] bereaksi dengan asam zirkonil atau larutan zirkonil klorida oktahidrat (ZrOCl2.8H2O) membentuk kompleks warna merah tua yang terdiri dari SPADNS dan zirkonium. Fluorida dalam sampel bereaksi dengan atom zirkonium dari kompleks warna merah menyebabkan berkurangnya warna merah larutan, yang sebanding dengan konsentrasi F karena F- dan Zr4+ membentuk kompleks anion yang tidak berwarna [ZrF6]2- dan SPADNS berubah ke struktur aslinya, kemudian diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 570 nm.


Reaksi kimia

Reaksi antara SPADNS, zirkonium dan fluorida





Monday 4 September 2017

Cara Uji Fluorida Secara Spektrofotometri dengan SPADNS

1 comments


1. Prinsip Analisis

Fluorida bereaksi dengan larutan campuran SPADNS-asam zirkonil menyebabkan berkurangnya warna larutan. Pengurangan warna ini sebanding dengan banyaknya unsur fluorida dalam contoh uji yang kemudian diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 570 nm.

2. Reagen
a) air suling yang digunakan mempunyai daya hantar listrik kurang dari 2 µmhos/cm;

b) natrium fluorida bebas air (NaF);

c) SPADNS, natrium 2-(para sulfofenilazo) 1,8-dihidroksi-3,6-naftalen disulfonat = asam 4,5-dihidroksi-3-(parasulfofenilazo)-2,7-naftalen disulfonat;

d) asam zirkonil atau zirkonil klorida oktahidrat (ZrOCl2.8H2O);

e) asam klorida (HCl) pekat; dan

f) natrium arsenit (NaAsO2).

3. Peralatan
a) spektrofotometer;

b) neraca analitik;

c) pipet volumetrik 2 mL; 5 mL; 10 mL dan 15 mL;

d) pipet ukur; dan

e) labu ukur 100 mL; 500 mL dan 1000 mL.

4. Persiapan pengujian
4.1 Larutan induk fluorida 100 mg F-/L
a) larutkan 221,0 mg natrium fluorida anhidrat (NaF) dengan air suling dalam labu ukur 1000 mL, kemudian tambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera dan dihomogenkan (1,0 mL = 100 µg F-); atau

b) pipet 100 mL larutan induk fluorida 1000 mg F-/L yang tertelusur ke Standard Reference Material, masukkan ke dalam labu ukur 1000 mL, kemudian tambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera dan dihomogenkan.

4.2 Larutan baku fluorida 10 mg F-/L
a) pipet 50 mL larutan induk 100 mg F-/L dan masukkan ke dalam labu ukur 500 mL;

b) tambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera dan dihomogenkan (1,0 mL larutan = 0,01 mg F-).

4.3 Larutan kerja fluorida
a) pipet 0 mL; 2 mL; 5 mL; 10 mL dan 15 mL larutan baku fluorida yang mengandung 10 mg F-/L dan masukkan masing-masing ke dalam labu ukur 100 mL

b) tambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera kemudian dihomogenkan sehingga diperoleh kadar fluorida 0,0 mg F-/L; 0,2 mg F-/L; 0,5 mg F-/L; 1,0 mg F-/L dan 1,5 mg F-/L.

4.4 Larutan SPADNS
Larutkan 958 mg SPADNS, natrium 2-(para sulfofenilazo) 1,8-dihidroksi-3,6-naftalen disulfonat atau disebut juga 4,5-dihydroxy-3-(parasulfophenylazo)-2,7-naphtalenedisulfonic acid trinatrium salt, dalam air suling dan encerkan larutan diatas dengan air suling menjadi 500 mL. Larutan ini stabil selama 1 tahun apabila terhindar dari sinar matahari langsung.

4.5 Larutan asam zirkonil
a) larutkan 133 mg zirkonil klorida oktahidrat, ZrOCl2.8H2O dalam sekitar 25 mL air suling;

b) tambahkan 350 mL HCl pekat dan diencerkan menjadi 500 mL dengan air suling.

4.6 Larutan campuran asam zirkonil-SPADNS
Campurkan larutan asam zirkonil dan larutan SPADNS dengan volume yang sama.
CATATAN Larutan ini stabil selama 2 tahun.

4.7 Larutan natrium arsenit 0,5%
Larutkan 0,5 g NaAsO2 dengan air suling pada labu ukur 100 mL, tepatkan hingga tanda tera kemudian dihomogenkan.

4.8 Larutan blanko (reference solution)
Pipet 10 mL larutan SPADNS ke dalam labu ukur 100 mL, tepatkan hingga tanda batas dengan air suling. Encerkan 7 mL HCl pekat dengan air suling hingga 10 mL dan campurkan dengan larutan SPADNS tersebut di atas.

5. Persiapan contoh uji
a) Contoh uji yang keruh harus disaring menggunakan saringan membran berpori 0.45 µm.

b) Contoh uji tidak boleh mengandung ion klorida lebih besar atau sama dengan 7000 mg Cl-/L, karena dapat mengganggu analisis dan memberikan kesalahan positif.

c) Contoh uji tidak boleh mengandung besi lebih besar atau sama dengan 10 mg Fe/L, karena dapat mengganggu analisis dan memberikan kesalahan negatif.

d) Contoh uji tidak boleh mengandung ion sulfat lebih besar atau sama dengan 200 mg SO42-/L, karena dapat mengganggu analisis dan memberikan kesalahan negatif.

e) Contoh uji tidak boleh mengandung ion fosfat lebih besar atau sama dengan 16 mg PO43-/L, karena dapat mengganggu analisis dan memberikan kesalahan positif.

f) Apabila contoh uji mengandung ion-ion pengganggu pada 5 butir c) sampai g), hilangkan gangguan tersebut dengan cara destilasi.

g) Apabila contoh uji mengandung sisa klorin, hilangkan klorin dengan penambahan 0,05 mL larutan NaAsO2, untuk setiap 0,1 mg sisa klorin.


6. Pembuatan kurva kalibrasi
a) optimalkan spektrofotometer untuk pengujian kadar fluorida sesuai dengan pengoperasian alat;

b) ke dalam masing-masing larutan kerja pada langkah 4.3, tambahkan 10,0 mL larutan campuran SPADNS dan asam zirkonil, aduk hingga homogen;

c) atur spektrofotometer hingga nilai serapan nol dengan larutan blanko;

d) ukur serapan masing-masing larutan baku dan catat;

e) buat kurva kalibrasi yang menunjukkan hubungan antara kadar fluorida dengan pembacaan serapannya dan tentukan persamaan garis lurusnya (regresi liniernya).

7. Prosedur pengujian contoh uji
a) pipet 50,0 mL contoh uji atau yang telah diencerkan menjadi 50,0 mL dengan air suling;

b) tambahkan 10,0 mL larutan campuran SPADNS-asam zirkonil, kocok hingga homogen;

c) ukur serapannya dan catat;

d) apabila serapan contoh uji berada di luar serapan kurva kalibrasi standar, ulangi pengujian dengan menggunakan contoh uji yang telah diencerkan.

8. Perhitungan
Kadar flourida (mg/L) = C x fp

dengan pengertian:
C adalah kadar yang didapat dari hasil pengukuran (mg/L);
fp adalah faktor pengenceran.

Referensi
SNI 06-6989.29-2005

Friday 1 September 2017

Prosedur Digesti Asam (Acid Digestion) untuk Analisis Logam

4 comments


Prosedur digesti asam diperlukan untuk mengurangi interferensi oleh zat organik dan untuk mengkonversi logam yang terikat dengan partikulat ke bentuk logam bebas yang dapat ditentukan oleh AAS atau ICP.

HNO3 akan mendestruksi sebagian besar sampel secara memadai. Nitrat adalah matriks yang dapat diterima baik untuk FAAS dan GFAAS. Beberapa sampel mungkin memerlukan penambahan asam perklorat, asam klorida, atau asam sulfat untuk digesti yang sempurna. Asam-asam ini dapat mengganggu analisis beberapa logam dan memberikan interferensi matriks untuk analisis GFAAS. Sebagai aturan umum:
• HNO3 saja cukup untuk sampel bersih atau bahan mudah teroksidasi.

• HNO3-H2SO4 atau larutan HNO3-HCl cukup untuk bahan organik yang mudah teroksidasi.

• Digesti HNO3-HClO4 atau HNO3-HClO4-HF diperlukan untuk bahan organik atau mineral yang sulit dioksidasi.

Prosedur Digesti Asam

A. Digesti Asam Nitrat (HNO3)

1. Transfer sejumlah volume sampel yang sesuai (50 sampai 100 mL), masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 125 mL atau gelas Beaker 150 mL.

2. Tambahkan 5 mL HNO3 pekat dan beberapa butir batu didih. Tutup wadah dengan gelas arloji.

3. Panaskan perlahan dengan menggunakan hot plate hingga sampai volume 10-20 mL, sebelum terjadi presipitasi.

4. Lanjutkan pemanasan dan tambahkan HNO3 pekat seperlunya sampai digesti komplit, seperti yang ditunjukkan oleh larutan berwarna terang dan jernih. Jangan biarkan sampel kering selama digesti.

5. Dinginkan, bilas dinding wadah dan gelas arloji dengan air demin dan saring, jika perlu.

6. Pindahkan filtrat ke dalam labu ukur 100 mL. Tambahkan air demin hingga tanda tera, aduk sampai homogen.


B. Digesti Asam Nitrat (HNO3)– Asam Klorida (HCl)
1. Transfer sejumlah volume sampel homogen dan telah diasamkan untuk konsentrasi logam yang diharapkan ke labu Erlenmeyer 125 mL atau gelas Beaker 150 mL.

2. Tambahkan 3 ml HNO3 pekat dan beberapa butir batu didih.

3. Panaskan perlahan di atas hot plate dan uapkan sampai kurang dari 5 mL, pastikan bahwa sampel tidak mendidih dan tidak ada bagian bawah wadah dibiarkan kering.

4. Dinginkan, bilas dinding wadah dan gelas arloji dengan sedikit air demin, tambahkan lagi 5 mL HNO3 pekat. Tutup wadah dengan gelas arloji dan panaskan kembali di atas hot plate. Tingkatkan suhu hot plate sehingga terjadi reaksi refluks.

5. Lanjutkan pemanasan, tambahkan asam tambahan secukupnya sampai digesti komplit, ditandai dengan larutan berwarna terang dan jernih.

6. Uapkan sampai kurang dari 5 mL dan dinginkan. Tambahkan 10 mL HCl (1+1) dan 15 mL air demin per 100 mL volume akhir. Panaskan selama 15 menit tambahan untuk melarutkan endapan atau residu.

7. Dinginkan, bilas dinding wadah dengan air demin, dan saring untuk menghilangkan bahan yang tidak larut yang bisa menyumbat nebulizer. Atau, sentrifugasi atau biarkan mengendap selama semalam.

8. Transfer filtrate ke labu ukur 100 mL. Tambahkan air demin hingga tanda tera, aduk sampai homogen.


C. Digesti Asam Nitrat (HNO3) – Asam Sulfat (H2SO4)
1. Transfer sejumlah volume sampel homogen dan telah diasamkan untuk konsentrasi logam yang diharapkan ke labu Erlenmeyer 125 mL atau gelas Beaker 150 mL.

2. Jika sampel belum diasamkan, tambahkan H2SO4 pekat, metil orange dan 5 mL HNO3 pekat sampai berubah warna menjadi merah jingga.

3. Tambahkan beberapa batu didih, panaskan pelan-pelan hingga mendidih pada hot plate dan uapkan hingga volumenya menjadi 15 sampai 20 mL.

4. Tambahkan 5 mL HNO3 pekat dan 10 mL H2SO4 pekat. Uapkan pada hot plate hingga tepat tampak uap putih pekat SO3.

5. Jika larutan tidak jernih, tambahkan 10 mL HNO3 pekat dan ulangi penguapan sampai asap putih SO3 mulai terbentuk.

6. Panaskan untuk menghilangkan semua HNO3 sebelum perlakuan selanjutnya. Semua HNO3 akan hilang apabila larutan tersebut menjadi jernih dan tidak ada lagi asap kecoklatan yang terlihat. Sampel jangan sampai kering selama digesti.

7. Dinginkan, encerkan dengan air demin kira-kira 50 mL.

8. Panaskan sampai hampir mendidih untuk melarutkan garam yang susah larut.

9. Bila perlu disaring, kemudian pindahkan filtrat ke dalam labu ukur 100 mL, bilas wadah dengan air demin, tambahkan hasil bilasan ini ke dalam labu ukur.

10. Dinginkan, encerkan dengan air demin hingga tanda tera dan aduk sampai homogen.


D. Digesti Asam Nitrat (HNO3)– Asam Perklorat (HClO4)
1. Aduk dan transfer sejumlah volume sampel homogen dan telah diasamkan untuk konsentrasi logam yang diharapkan ke labu Erlenmeyer 125 mL atau gelas Beaker 150 mL.

2. Bila sampel belum diasamkan, lakukan pengasaman dengan menambah HNO3 pekat dan indikator metil orange.

3. Tambahkan tambahan 5 mL HNO3 pekat dan beberapa butir batu didih,

4. Panaskan dengan menggunakan hot plate hingga volumenya menjadi 15 mL sampai dengan 20 mL.

5. Tambahkan lagi 10 mL HNO3 pekat dan 10 mL HClO4 pekat sambil didinginkan. Uapkan dengan menggunakan hot plate sampai timbul uap putih tebal dari HClO4.

6. Jika larutan tidak jernih, tutuplah wadah dengan gelas arloji dan biarkan larutan tetap mendidih hingga menjadi jernih. Jika perlu, tambahkan 10 mL HNO3 pekat untuk menyempurnakan digesti.

7. Dinginkan, encerkan dengan air demin sampai kira-kira 50 mL dan didihkan untuk menghilangkan Cl2 dan oksida nitrogen.

8. Bila perlu disaring, kemudian pindahkan filtrat ke dalam labu ukur 100 mL, bilas wadah dengan air demin, tambahkan hasil cucian ini ke dalam labu ukur.

9. Dinginkan, encerkan dengan air demin hingga tanda tera dan aduk sampai homogen.


E. Digesti Asam Nitrat (HNO3) – Asam Perklorat (HClO4)– Asam Florida (HF)
1. Aduk sampel dan transfer volume yang sesuai ke dalam Beaker TFE 250 mL.

2. Tambahkan beberapa butir labu didih dan panaskan di atas hot plate secara perlahan. Uapkan sampai 15 sampai 20 mL.

3. Tambahkan 12 mL HNO3 pekat dan uapkan sampai hampir kering. Ulangi penambahan dan penguapan HNO3.

4. Biarkan larutan dingin, tambahkan 20 mL HClO4 dan 1 mL HF, dan panaskan sampai larutan menjadi jernih dan timbul asap putih HClO4.

5. Dinginkan, tambahkan sekitar 50 mL air demin, saring.

6. Tambahkan air demin hingga tanda tera dan aduk sampai homogen.

CATATAN:

Pemanasan campuran HClO4 dan bahan organik dapat meledak kuat. Hindarkan bahaya ini dengan mengikuti prosedur berikut:

1. Jangan menambahkan HClO4 pada larutan panas yang mengandung bahan organik.

2. Lakukan pretreatment (perlakuan awal) contoh uji yang mengandung bahan organik.

3. Digesti dilakukan di dalam ruang asam yang telah dikondisikan untuk digesti dengan menggunakan asam HClO4.

4. Hindari contoh uji yang di digesti dengan HClO4 menguap sampai kering.

Tuesday 29 August 2017

Preparasi Sample Lingkungan

2 comments


Secara umum proses analisis terdiri dari beberapan tahapan, yaitu sampling, preservasi sampel, preparasi sampel, analisis, analisis data, dan pembuatan laporan analisis. Kesalahan pada salah satu tahapan pada proses analisis akan menyebabkan terjadinya kesalahan hasil analisis.

Preparasi sampel yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil analisis yang valid. Untuk beberapa sampel seperti sampel air minum bisa langsung digunakan untuk analisis logam tanpa preparasi (digesti asam); beberapa tehnik analisis, misal XRF, hanya membutuhkan preprasi sampel yang minimal, tetapi sebagian besar sampel membutuhkan preparasi sampel yang membutuhkan waktu yang lama, terutama untuk analisis trace organik.

Friday 25 August 2017

Reaksi Kimia Penetapan Sulfida dengan Biru Metilen

0 comments


Prinsip Analisis

Uji sulfida didasarkan pada kemampuan hidrogen sulfida (H2S) dan sulfida metalik yang larut dalam asam untuk mengubah N,N-dimetil-p-fenilendiamina secara langsung menjadi biru metilen dengan adanya zat pengoksidasi ferri klorida. Intensitas warna biru metilen berbanding lurus dengan konsentrasi sulfida dalam sampel dan diukur pada panjang gelombang 664 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Larutan diammonium hidrogen fosfat (NH4)2HPO4) ditambahkan untuk menghilangkan pewarnaan diri (self-coloring) dari besi klorida yang ditambahkan.

Friday 18 August 2017

Prosedur Pengendalian Pekerjaan Pengujian Yang Tidak Sesuai

1 comments


Pekerjaan yang tidak sesuai didefinisikan sebagai pekerjaan yang tidak memenuhi kriteria penerimaan atau persyaratan customer yang telah disetujui. Ketidaksesuaian dapat mencakup hasil pengendalian mutu yang tidak dapat diterima, penyimpangan dari prosedur operasi standar, atau modifikasi metode. Kebijakan untuk pengendalian pekerjaan yang tidak sesuai adalah untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian, menentukan dampaknya terhadap kebijakan integritas data / kualitas, dan mengambil tindakan yang tepat.

Semua karyawan memiliki wewenang untuk menghentikan pengujian sampel bila ada aspek proses yang tidak sesuai dengan persyaratan laboratorium. Permintaan penyimpangan dari prosedur standar laboratorium ditinjau, disetujui, dan didokumentasikan minimal oleh Supervisor Departemen dan Manajer Mutu.

Berikut contoh prosedur pengendalian pekerjaan yang tidak sesuai ;

1. Bila pekerjaan yang tidak sesuai terjadi di laboratorium, analis laboratorium, Manajer Teknis dan Manajer Mutu memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk menghentikan pekerjaan jika sesuai.

2. Kapan pun terjadi ketidaksesuaian, personel laboratorium akan segera melakukan tindakan untuk memperbaiki masalahnya jika sesuai.

3. Individu yang mengidentifikasi ketidaksesuaian akan melengkapi Formulir Pengendalian Pekerjaan yang Tidak Sesuai dan memberitahukan Manajer Mutu sesegera mungkin.

4. Manajer Mutu dalam konsultasi dengan Manajer Teknis akan mengevaluasi signifikansi ketidaksesuaian.

5. Manajer Mutu akan menentukan apakah ada potensi ketidaksesuaian untuk terulang di tempat lain dalam sistem mutu atau jika ada dampak buruk pada kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Jika demikian, itu akan ditangani melalui Prosedur Tindakan Perbaikan

6. Jika ketidaksesuaian tidak ditangani melalui proses tindakan perbaikan, maka akan dievaluasi oleh Manajer Mutu untuk menentukan apakah ini merupakan kesempatan untuk Tindakan Pencegahan (preventive action) atau Peningkatan Mutu (quality improvement).

7. Manajer Teknis dan Manajer Mutu berkonsultasi dengan supervisor atau analis laboratorium akan menentukan apakah hasil yang dihasilkan dari pekerjaan yang tidak sesuai dapat diterima atau pekerjaan tersebut harus diulang.

8. Manajer Teknis dan Manajer Mutu juga akan menentukan apakah pelanggan harus diberi tahu tentang ketidaksesuaian dan jika ada data yang dirilis sebelumnya harus dibatalkan.

9. Jika pekerjaan dihentikan karena ketidaksesuaian, Manajer Mutu atau Manajer Teknis akan menentukan kapan pekerjaan tersebut harus dilanjutkan.


Pembatalan Data
Jika perlu untuk membatalkan data karena ketidaksesuaian, maka akan menjadi tanggung jawab Manajer Teknis untuk menghubungi pelanggan dan memberi tahu mereka tentang pembatalan data. Hal ini bisa dilakukan melalui email atau memorandum. Salinan korespondensi dengan pelanggan mengenai pembatalan data harus diteruskan ke Manajer Mutu.


Rekaman
Informasi yang berkaitan dengan kejadian pekerjaan yang tidak sesuai akan dicatat pada Formulir Pengendalian Pekerjaan yang Tidak Sesuai. Manajer Mutu akan menyimpan semua rekaman yang terkait dengan kejadian pekerjaan yang tidak sesuai. Catatan ini bisa meliputi:
1. Formulir Pengendalian Pekerjaan yang Tidak Sesuai
2. Pemberitahuan untuk menghentikan pekerjaan (email, memo, komunikasi lisan)
3. Rekaman pemberitahuan pelanggan (email, memo, komunikasi lisan)
4. Rekaman pembatalan data (email, memo, komunikasi lisan)
5. Pemberitahuan untuk melanjutkan pekerjaan (email, komunikasi verbal)
6. Formulir Tindakan Perbaikan

Saturday 12 August 2017

Coliwasa Sampler

1 comments


There is equipment that will collect a sample from the full depth of a drum and maintain it in the transfer tube until delivery to the sample bottle. These equipment designs include primarily the Composite Liquid Waste Sampler (COLIWASA) and modifications thereof. The COLIWASA is a sampler designed to permit representative sampling of multiphase wastes from drums and other containerized wastes. One configuration is a 152-cm-by-4-cm ID section of tubing with a neoprene stopper at one end, attached by a rod running the length of the tube to a locking mechanism which opens and closes the sampler by raising and lowering the neoprene stopper.

Thursday 10 August 2017

Perbedaan Closed Cup dan Open Cup Flash Point

1 comments

Ada berbagai metode untuk mengukur Flash Point, yang dapat dibagi menjadi dua kategori utama: Open Cup (OC ) dan Closed Cup (CC) flash point. Berikut ini adalah perbedaan antara closed cup dan open cup flash point.

Closed Cup

Pengujian Closed Cup Flash point bertujuan untuk mensimulasikan situasi tumpahan cairan dalam lingkungan tertutup. Jika cairan berada pada, atau di atas, flash point yang kemungkinan terjadi kebakaran atau ledakan bila terkena sumber pengapian.

Dalam pengujian Closed Cup, sampel ditempatkan di dalam test cup tertutup dan sumber pengapian diaplikasikan untuk mengukur suhu di mana sampel menyala , yang dikenal sebagai Flash Point.

Contoh metoda closed cup adalah Abel, Abel-Pensky, Pensky-Martens, Tag Closed Cup

Open Cup

Pengujian Open Cup mensimulasikan potensi pengapian tumpahan cairan dalam kondisi terbuka (tidak dalam lingkungan tertutup), misalnya tumpahan cairan di lantai. Dalam uji open cup, sampel tidak tertutup tapi dipanaskan secara terbuka dan sumber pengapian diaplikasikan di permukaannya pada interval tertentu untuk memeriksa flash point.

Instrumen open cup akan selalu memberikan nilai flash point lebih tinggi dari open cup dikarenakan metoda open cup memungkinkan hilangnya uap gas (vapor) ke atmosfer di atas instrumen. Pengujian closed cup biasanya diminta karena hasil presisi yang baik.

Contoh metoda closed cup adalah Cleveland Open Cup (COC)


Saturday 5 August 2017

Cara uji sulfida dengan biru metilen secara spektrofotometri

1 comments


1. Prinsip Analisis
Sulfida bereaksi dengan ferri klorida dan dimetil-p-fenilendiamina membentuk senyawa berwarna biru metilen, kemudian diukur pada panjang gelombang 664 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis.

Monday 24 July 2017

Reakasi Kimia Penetapan Nikel (Ni) secara Fotometri dalam sampel air

0 comments


A. Metode dimethylglyoxime (DMG)

Prinsip Analisis

Nikel dianalisis secara kuantitatif melalui reaksinya dengan dimethylglyoxime untuk membentuk kompleks berwarna orange, yang kemudian diekstraksi dengan kloroform untuk memekatkan warnanya dan untuk memungkinkan penentuan kolorimetri yang lebih sensitif. Agen khelat sodium tartrat  ditambahkan ke sampel untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh logam pengganggu seperti kobalt, tembaga dan besi.


Reaksi kimia

Reaksi nikel dengan dimethylglyoxime


Dua molekul dimethylglyoxime dibutuhkan untuk membentuk kompleks warna dengan nikel. Sebuah proton dilepaskan dari masing-masing oxime group (=NOH) molekul dimethylglyoxime, namun dikomplekskan oleh pasangan elektron dari atom nitrogen dan bukan oleh elektron oksigen. Atom oksigen membentuk ikatan hidrogen ((O–H·O–)  dengan atom hidrogen.


Menghilangkan logam pengganggu dengan sodium tartrat



B. Metode Heptoxime ( HACH Method 8037)

Prinsip analisis hampir sama dengan metoda dimethylglyoxime diatas, berikut adalah reaksi antara nikel dengan Cycloheptanedionedioxime







Friday 21 July 2017

Root Cause Analysis

1 comments


Apa itu Root Cause Analysis?
Root Cause Analysis (RCA) atau analisis akar penyebab adalah metode pemecahan masalah yang digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab kesalahan atau masalah (Wikipedia).

RCA merupakan suatu sistem metode pemecahan masalah bertujuan untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah atau kejadian yang didasarkan pada keyakinan bahwa masalah paling baik dipecahkan dengan mencoba mengoreksi atau menghilangkan akar penyebab, dengan mengarahkan tindakan perbaikan pada akar penyebab, diharapkan kemungkinan keterulangan masalah akan diminimalkan.

Tuesday 18 July 2017

Prosedur Pengendalian Dokumen

0 comments


ISO 17025 klausul 4.3 mensyaratkan laboratorium memiliki Prosedur Pengendalian Dokumen untuk mengendalikan semua dokumen yang merupakan bagian dari sistem manajemennya. Dokumen-dokumen ini termasuk yang dibuat secara internal ataupun berasal dari eksternal.

Laboratorium mengelola tiga jenis dokumen: 1) terkendali, 2) disetujui, dan 3) kadaluarsa. Semua dokumen yang mempengaruhi kualitas data laboratorium dikelola sesuai dengan lingkup dan kedalaman yang diperlukan.
1. Dokumen terkendali (controlled document)
Dokumen terkendali adalah dokumen yang dibuat secara internal, diidentifikasi secara unik, dikeluarkan, dan dipelihara sebagai bagian dari sistem mutu. Dokumen terkendali dikenali secara unik dengan: 1) tanggal efektif, 2) nomor revisi, 3) nomor halaman, 4) jumlah halaman, dan 5) tanda tangan dari pejabat yang berwenang menerbitkan dokumen (yaitu manajemen).

Dokumen terkendali didistribusikan kepada personil yang sudah ditentukan, dan apabila terjadi perubahan/revisi terhadap dokumen tersebut, maka pejabat yang berwenang berkewajiban untuk memberikan revisi yang terbaru dan memastikan dokumen yang lama telah ditarik.
2. Dokumen yang disetujui (approved document)
Dokumen yang disetujui adalah dokumen yang telah dirilis atau diakui secara eksternal, baik berupa soft copy maupun hard copy-nya. Contoh dokumen yang disetujui mencakup metoda standar EPA, AWWA, ASTM, dll. Kaji ulang dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa standar tersebut merupakan revisi terbaru.
3. Kadaluarsa (obsolete)
Dokumen kadaluarsa adalah dokumen yang telah digantikan oleh versi yang lebih baru atau yang mencerminkan praktik yang dihentikan.

Prosedur Pengendalian Dokumen harus memastikan bahwa:
1. Dokumen dibuat, dikaji ulang, dan disahkan sebelum digunakan.

2. Dokumen diidentifikasi secara khusus yang mencakup tanggal berlaku efektif, status revisi, nomor halaman, jumlah halaman total dan pejabat yang berwenang mengesahkannya.

3. Daftar induk dokumen (master list) yang menunjukkan status revisi dan pendistribusiannya.

4. Dokumen edisi terbaru yang telah sah didistribusikan dan tersedia di tempat-tempat yang memerlukannya dengan status terkendali.

5. Kaji ulang dokumen internal dilakukan secara berkala  dan direvisi untuk menjamin keberlanjutan kesesuaiannya, bila diperlukan.

6. Untuk mencegah penggunaan yang tidak seharusnya, dokumen kadaluarsa dimusnahkan atau diberi identifikasi yang sesuai jika disimpan untuk kepentingan hukum ataupun ilmu pengetahuan.

7. Perubahan dokumen dikaji ulang dan disahkan kembali oleh fungsi yang sama dengan fungsi yang melakukan kaji ulang sebelumnya.

Kasus temuan ketidaksesuaian terkait klausul 4.3 - Pengendalian Dokumen pada saat audit biasanya sering ditemukan hal-hal sebagai berikut:
a. Master List tidak up to date.

b. Teknisi ditemukan menggunakan prosedur kadaluarsa selama pengujian.

c. Dokumen dalam sistem manajemen organisasi tidak diidentifikasi secara unik dan/atau tidak termasuk identifikasi yang diperlukan/dibutuhkan

d. Sering kali kesalahan klerikal (tulis menulis) terjadi mengenai bagian ini. Dokumen tidak diperbarui secara tepat karena kesalahan manusia.

e. Banyak prosedur mutu, SOP, dan dokumen terkendali lainnya tersedia secara elektronik. Jika orang-orang di dalam organisasi mampu mencetak dokumen-dokumen ini, seringkali dapat menyebabkan masalah dengan penggunaan dokumen kadaluarsa.

Sunday 16 July 2017

Prosedur Kalibrasi Mercury Analyzer WA-4

5 comments


1. Hidupkan Switch ON/OFF di sebelah kanan alat WA-4 dan biarkan sistem stabil selama 20 menit.

2. Nyalakan komputer (PC) dan tunggu sampai prosses booting selesai.

3. Klik 2x ikon WA-4, kemudian pilih menu [File(F)], pilih menu [Connected/Cut of Communication Line] atau klik ikon di bawah untuk menghubungkan WA-4 dan PC.



4. Pastikan larutan buffer (1 + 1) pH 7 terisi di dalam scrubber

5. Setelah 20 menit standby, tekan [START] pada panel operasi untuk membersihkan sistem

6. Pada software WA-4, masuk ke menu [Setup(S)], pilih [Set up Measuring Conditions]



7. Atur kondisi operasi sebagai berikut;

a) Pilih Gas (Heating Vaporization) di bawah [Sample and Analytical Method]

b) Di bawah Unit, pilih parameter sebagai berikut;


c) Pilih y = ax + blank di bawah [Calibration Curve]

d) Pilih Integral atau Peak di bawah [Peak Analysis] dengan guideline sebagai berikut;
i. 0 sampai 20ng atau 20ng, pilih Peak

ii. 0 sampai 200ng atau 1000ng, pilih Integral

e) Pilih Zero by Force di bawah [Description of minus value]

f) Pilih Concentration di bawah [Statistical data]
8. Tekan tombol rentang (range) di panel operasional, sesuai rentang konsentrasi sampel (lihat 7.d)


9. Buka box gas standar mercury MB-1, tekan switch ON/OFF, tunggu sampai temperature yang ditampilkan di display stabil




10. Untuk membuat deret kurva kalibrasi, lakukan langkah sebagai berikut;
a) Klik kolom [Sample Name [gas]] dan pilih STD

b) Klik kolom [Std (ng)], klik ikon dengan gambar thermometer [calculation of mercury content in injected standard gas]
c) Masukkan temperature yang ditampilkan pada MB-1 dan volume (uL) gas standar yang akan diambil, tekan ENTER
d) Lakukan langkah 10.a – 10.c sampai semua deret kalibrasi diinput

11. Buka penutup mercury collector orifice pada MB-1, masukkan needle syringe ke dalam lubang kecil wadah standar gas merkuri, gerakkan piston syringe 2 atau 3 kali untuk memastikan pengambilan sampel yang akurat, lalu ambil sejumlah volume gas standar merkuri



12. Tekan [START] pada panel operasi dan kalibrasi dimulai

13. Segera injek syringe ke dalam mercury collector tube M-160 melalui septum pada WA-4



14. Ulangi langkah 11-13 sampai kalibrasi selesai

15. Setelah kalibrasi selesai, analisis sampel dapat dilanjutkan. Untuk analisis sampel, cukup transfer mercury collector tube (M-160) ke dalam WA-4 untuk dianalisis satu per satu

16. Setelah selesai kalibrasi dan analisa sampel, pilih menu [File(F)], pilih [Save Data File]

17. Matikan alat sesuai prosedur mematikan alat WA-4

Thursday 13 July 2017

Penentuan Nikel Dalam Nickel Ore

0 comments


Prinsip Analisis

Sample bijih nikel kering/dry berukuran – 200 mesh (- 75µm) yang telah dilarutkan dengan asam kuat dan silikat nya telah dihilangkan dengan asam fluoride diendapkan dengan dimethyl glyoxime dalam suasana basa dan panas. Endapan Ni-Glyoxime dilarutkan kembali dengan larutan asam dan panas. Ion nikel yang terbentuk dititrasi dengan indikator murexide membentuk kompleks Ni-EDTA dalam suasana basa.


Peralatan

1. Porcelain Crucible
2. Erlenmeyer 500 ml dan 300 ml
3. Measuring Glass 25 ml dan 100 ml
4. Labu Semprot
5. Filter Paper No. 41 dia. 12.5 cm
6. Analytical Balance, kapasitas 200 ± 0,1 mg.
7. Beaker Glass 250 dan 500 ml
8. Beaker PTFE 100 ml
9. Kaca Arloji
10. Oven
11. Funnel
12. Hot Plate
13. Burrete 50 ml
14. Standing Burrete
15. Gegep
16. Lacmus Paper
17. Desicator


Reagen

1. Tartaric Acid Solution 25 % (C4H6O6)
Ditimbang 250 gr Tartaric acid dan larutkan dengan aquadest menjadi 1,000 ml.

2. Dimethyl Glyoxime 2 % (C4H5N2O2)
Ditimbang 20 gr Dimethyl Glyoxime dan larutkan dengan ethanol absolute sampai 1,000 ml.

3. EDTA Standard Solution 0.025 M
Ditimbang 9,306 gr EDTA dalam beaker glass 250 ml dan larutkan dengan aquadest. Masukkan dalam measuring flask 1,000 ml dan himpitkan dengan aquadest sampai tanda batas dan dikocok hingga homogen.

4. Amonia Solution (NH4OH) 1:1

5. Nitric Acid Solution (HNO3) 1:1 Panas

6. Hydrochloric Acid Solution (HCl) 1:9 Panas

7. Hydrochloric Acid (HCl) concentrate

8. Amonia (NH4OH) concentrate

9. Nitric Acid (HNO3) concentrate

10. Hydrofluoric acid (HF) concentrate

11. Perchloric acid (HClO4) concentrate


Prosedur Analisis

1. Penentuan Faktor Larutan standar EDTA 0,025 M
1.1. Pembuatan Larutan standar Ni 1 mg/ml
1. Ditimbang ± 1,0000 gr standar nikel dalam gelas piala 250 ml.

2. Tambahkan 20 ml HNO3 (p) larutkan diatas hotplate pada suhu 300°C hingga Volume larutan lebih kurang 5 ml.

3. Dinginkan lalu pindahkan ke dalam labu ukur 1 liter (saring no.41) dan himpitkan hingga tanda garis.

4. Kocok hingga homogen

1.2. Penentuan Faktor Larutan Standar EDTA 0,025 M
1. Pipet 20 ml Larutan Standar Ni 1 mg/ml (Larutan No. 1.1.) ke dalam Erlenmeyer 300 ml.

2. Tambahkan 2,5 ml asam tartaric 25% dan kertas lakmus asam 5 x 5 mm. Basakan dengan NH4OH (p) (lakmus berubah dari merah ke biru ).

3. Tambahkan aquadest hingga volume lebih kurang 100 ml.

4. Tambahkan lebh kurang 0,01 gr indicator murexide dan 5 ml NH4OH (1:1).

5. Titrasi dengan larutan EDTA 0,025 M sampai terjadi perubahan warna dari Orange ke ungu.

2. Penentuan Kandungan Nikel.
1. Timbang sample sebanyak 1 gr ketelitian 0.1 mg dan masukkan ke dalam beaker PTFE. Basahi dengan sedikit aquadest.

2. Tambahkan 10 ml HCl pekat, 5 ml HNO3 pekat, 30 ml HClO4 pekat dan 2 ml HF pekat. Panaskan di atas hot plate suhu 300 ºC hingga volume 5 ml atau hampir kering (Uap putih akan keluar dan hati-hati, jangan sampai hangus).

3. Tambahkan 20 ml HCl 1:9 dan 50 ml aquadest untuk melarutkan garam-garam nitrat dan klorida yang terbentuk.

4. Saring dengan kertas saring Whatman No. 41 ke dalam erlenmeyer 500 ml dan bilas dengan HCl 1:9 sebanyak 3 kali (untuk meyakinkan melarutnya garam-garam klorida dan nitrat) dan aquadest panas 4 kali hingga bersih.

5. Filtrat ditambahkan 25 ml tartaric acid 25 % dan aquadest sampai volume 300 ml.

6. Tambahkan beberapa tetes indikator BTB 0.1 % hingga kekuningan.

7. Netralkan larutan dengan NH4OH 1:1 hingga terjadi perubahan warna kehijauan (kondisi larutan dalam keadaan basa), dan tambahkan kembali 5 ml NH44OH 1:1.

8. Panaskan di atas hot plate hingga hampir mendidih (suhu ± 70ºC).

9. Sambil dipanaskan, larutan ditambahkan 35 ml larutan dimethyl Glyoxime 2 % sedikit demi sedikit sambil di aduk untuk mengendapkan nikel sehingga terbentuk Nikel Glyoxime.

10. Diamkan di atas hotplate selama 10 menit (larutan di jaga, jangan sampai mendidih atau suhu ± 70ºC).

11. Dinginkan di temperature ruang atau air yang mengalir selama 2 jam untuk membentuk endapan yang sempurna (bulky).

12. Saring dengan kertas saring No. 41, cuci bersih dengan aquadest dalam suasana basa (500 ml aquadest dan 2 ml NH4OH pekat). Terakhir bilas dengan air panas (bebas nitrat dan klorida).

13. Endapan, filter paper, dan funnel (corong) dipindahkan ke erlenmeyer, dan endapan dilarutkan kembali dengan HNO3 1:1 panas sebanyak 3 kali. Bilas dengan aquadest panas hingga bersih.

14. Larutan nikel diuapkan di atas hot plate suhu 300ºC hingga volume 5 ml dan tambahkan aquadest hingga volume 30 ml lalu didinginkan.

15. Tambahkan 1 ml tartaric acid 25 % dan basa kan dengan NH4OH 1:1 hingga larutan berwarna kehijauan.

16. Tambahkan 10 ml NH4OH 1:1 dan encerkan dengan aquadest sampai kira-kira 100 ml.

17. Larutan ditambahkan kira-kira 0.1 gr indikator murexide dan dititrasi dengan larutan standard EDTA 0.025 sampai terjadi perubahan warna dari Orange ke Ungu.


PERHITUNGAN

1. Perhitungan Penentuan Faktor Larutan Standar EDTA 0,025 M


Dimana :
F = Faktor EDTA 0,025 M dengan standar Ni 1 mg/ml.
Y = Vol Larutan standar Ni 1 mg/ml.
W = Berat standar nikel (gr).
X = Kemurnian standar Ni 1 mg/ml.
V = Vol. standar EDTA 0,025 M sebagai penitar

2. Perhitungan Kandungan Nikel dalam Bijih Nikel


Dimana :
F = Factor EDTA 0,025 M standar Ni 1 mg/ml
V = Volume penitaran EDTA 0,025 M
W = Berat sample ( mg )

3. Konversi Kandungan Nikel terhadap Moisture dalam Sample Analitik


Dimana :
M = Kandungan Moisture dalam sample analitik
Ni = Prosentase Ni pada No. 2.


Referensi
JIS M 8126:1994. Ores - Methods for Determination of Nickel.

Monday 10 July 2017

Cara Menghitung Koefisien Korelasi (r)

5 comments


Koefisien korelasi atau correllation coeficient yang disimbolkan dengan "r", adalah ukuran korelasi linear antara dua variable. Koefisien korelasi (r) dapat dihitung dari data yang sama digunakan untuk menghasilkan persamaan garis lurus (y = mx + b). Nilai Koefisien korelasi (r) memperkirakan linieritas sebenarnya dari data asli. Dengan kata lain, r memperkirakan seberapa baik persamaan garis lurus (atau regresi linier) mewakili titik data yang tersebar yang diplot pada grafik XY.

Nilai r berkisar dari -1 sampai +1 tergantung pada kemiringan garis. Nilai r +1 menunjukkan titik data memiliki hubungan linier sempurna dan garis memiliki kemiringan positif, karena konsentrasi sampel (X) meningkat, nilai absorbansi sampel (Y) juga meningkat. Nilai r -1 menunjukkan titik data memiliki hubungan linier sempurna dan garis memiliki kemiringan negative, karena konsentrasi sampel (X) meningkat, nilai absorbansi sampel ( Y) menurun.



Menghitung koefisien korelasi (r)

Seperti halnya perhitungan regresi linier, menghitung koefisien korelasi atau nilai r menggunakan rumus sebagai berikut:


Contoh perhitungan:



Langkah 1 – Hitung nilai rata-rata (mean) x̄, dengan cara menjumlahkan seluruh nilai x, kemudian membaginya dengan jumlah data.

Langkah 2 – Hitung nilai rata-rata (mean) ȳ, dengan cara menjumlahkan seluruh nilai y, kemudian membaginya dengan jumlah data.

Langkah 3 - Hitung kuadrat dari (x - x̄) dan jumlah kuadratnya

Langkah 4- Hitung kuadrat dari (y - ȳ) dan jumlah kuadratnya

Langkah 5 – Hitung jumlah (x - x̄) (y - ȳ)

Langkah 6 – masukkan ke dalam rumus koefisien korelasi;


Perhitungan menggunakan Excel

Koefisien korelasi dapat dihitung menggunakan excel dengan fungsi CORREL seperti contoh di bawah;






Wednesday 5 July 2017

Menghitung Nilai Gross Heating Value (GHV) dari Hasil Komposisi Gas Alam

0 comments


Pada postingan kali ini akan membahas cara menghitung Gross Heating Value (Volume basis) dengan menggunakan metode ISO 6976-1995 dengan kondisi referensi pembakaran 0 derajat celcius (0 °C) dan unit Kcal/Nm3, tabel physical properties diambil dari GPA 2145, disarankan agar membaca juga "GIIGNL - LNG Custody Transfer Handbook" untuk menambah referensi anda.

Langkah-langkah untuk menghitung nilai Gross Heating Value adalah sebagai berikut ;

Langkah Pertama – Kalibrasi GC
• Lakukan kalibrasi alat GC menggunakan standar gas, pastikan standar gas yang digunakan belum kadaluarsa

• Catat peak area setiap komponen

• Hitung Response Factor (RF) untuk masing-masing komponen dengan menggunakan menggunakan rumus sebagai berikut:

K = Ms/Ps

Dimana;
K = Response Factor (RF)
Ms = % Mol standar gas
Ps = Peak area standar gas

• Hitung Rerata Response Factor (RF)

• Hitung nilai % Error (RPD) dengan rumus;
• Bandingkan % error yang didapat dengan keberterimaan repeatability di metoda standar GPA 2261, apabila sama atau lebih kecil maka data kalibrasi bisa dipakai untuk analisis sampel.

Contoh data kalibrasi












Langkah Kedua – Analisis Sampel
• Analisis sampel dengan kondisi penetapan yang sama pada saat kalibrasi alat GC

• Catat peak area setiap komponen

• Hitung konsentrasi sampel dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Mu=Pu/K

Dimana;
Mu = Konsentrasi sampel (unknown)
Pu = Peak area sampel (unkonown)
K = Response Factor (RF), yang didapat saat kalibrasi


• Hitung Rerata konsentrasi sampel sebelum normalisasi, data bisa diterima apabila konsentrasi sampel sebelum normalisasi 99 - 101 %.

• Hitung % Error (RPD) sesuai rumus di atas, data bisa diterima apabila % error sama atau lebih kecil dari batasan GPA 2261

• Lakukan Normalisasi Rerata “konsentrasi sebelum normalisasi” dengan cara membagi konsentrasi komponen dengan jumlah komponen (sebelum dinormalisasi) dikalikan dengan 100.

Contoh perhitungan normalisasi sampel;
CH4 (normalisasi) = Kadar CH4 (sebelum normal.) / jumlah (sebelum normal.) * 100
                              = (96.059/99.369)*100
                              = 96.67

Contoh data hasil analisis sampel














Langkah Ketiga – Hitung Gross Heating Value (GHV) dalam Kcal/Nm3
• Hitung Fraksi Mol (Xi) setiap komponen dengan membagi konsentrasi sesudah normalisasi dengan 100.

• Input data Gross Heating Value (volume basis) setiap komponen atau Hi (MJ/m3) dari tabel GPA 2145

• Kalikan fraksi mol dengan GHV setiap komponen

• Input compression factor  setiap komponen (Zi) dari tabel GPA 2145

• Hitung Gross Heating Value dalam Kcal/Nm3 dengan rumus sebagai berikut

Dimana;
HVn = Gross Heating Value (volume basis) sampel dalam Kcal/Nm3, dibulatkan ke zero               decimal
Xi = Fraksi Mol komponen
Hi = Gross Heating Value (volume basis) komponen
Zi = Nilai compression factor komponen

Contoh data perhitungan GHV dari tabel di bawah;
HVn = ((40.911155 *238.8887)/(1-(0.0509227)^2))
         = 9799 Kcal/Nm3








 

Sampling & Analisis Copyright © 2013
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger