Friday, 20 November 2015

Virtual Lab

0 comments

Tuesday, 17 November 2015

Cara Uji Vapor Pressure dalam sampel produk petroleum (ASTM D5191)

0 comments


1. Pendahuluan

1.1 Metode pengujian ini mencakup penentuan total vapor pressure di dalam ruang hampa
      yang diberikan oleh udara yang mengandung volatil, cairan produk petroleum. Metode
      pengujian ini cocok untuk menguji sampel dengan titik didih diatas 32 F dan yang
      mengeluarkan tekanan uap antara 7 dan 130 kPa (1,0 dan 19 psi) pada 100 F dan
      vapor-to-liquid-ratio
4:1.

1.2 Metode ini mencakup penggunaan instrumen RVP Tester yang melakukan pengukuran pada
      ukuran spesimen cairan di kisaran 1-10 mL.


2 Prinsip

2.1 Sampel dingin,jenuh udara, dimasukkan ke dalam chamber yang divakum, dikendalikan
      secara termostatik, volume internal chamber lima kali dari spesimen uji. Sampel dibiarkan
      mencapai kesetimbangan termal pada suhu uji (100 oF). Hasil kenaikan tekanan dalam
      chamber diukur menggunakan sensor pressure transduser dan indikator.

2.2 Hanya pengukuran total pressure (jumlah dari partial presure sampel dan partial pressure
      udara terlarut) yang digunakan dalam metode ini.

2.3 Total vapor pressure yang terukur dikonversi menjadi Dry Vapor Pressure Equivalent (DVPE)
      dengan menggunakan persamaan korelasi.


3 Instrumen

3.1 Instrumen yang digunakan dalam analisis ini adalah SETAPAV II Analyzer.
SETAPAV II Analyzer
3.2 Sebuah penangas air es diperlukan untuk mendinginkan sampel sampai suhu
      antara 32 dan 34 oF.



4 Pereaksi


4.1 Bahan-murni yang diketahui absolute vapor pressure digunakan untuk pemeriksaan
      pengendalian mutu. Bahan yang digunakan harus mengandung kemurnian tertinggi (grade
      reagen, jika tersedia).

4.2 reagen yang sering digunakan adalah 2,3-dimetilbutan.



5 Sampling

5.1 Sampel harus diperoleh sesuai dengan ASTM D4057 untuk mendapatkan hasil yang akurat.

5.2 pengukuran tekanan uap bisa sangat sensitif terhadap hilangnya komponen volatil
      melalui penguapan. Sampel harus dibuka hanya ketika dingin dan untuk waktu sesingkat
      mungkin.

5.3 Jangan menguji sampel yang disimpan dalam wadah bocor. buang dan dapatkan sampel baru
      jika kebocoran terdeteksi


6 Persiapan Instrumen SETAPAV II

6.1 Sambungkan pompa vakum ke sumber listrik.

6.2 Tempatkan waste container (penampung sampel hasil analisis)

6.3 Nyalakan pompa vakum

6.4 Nyalakan SETA Vap II dengan menekan tombol ON/OFF di bagian belakang instrumen.
      Note : Untuk mengubah unit,tekan dua tombol bersamaan, lalu tekan ON/OFF instrumen
      di bagian belakang. Setelah unit di layar tampil, Putar knob sampai display menunjukkan
      satuan yang diinginkan (kPa atau psi). Tekan tombol kiri, akan tampil ”Switch Off” di layar.
      Matikan instrumen dengan menekan tombol ON/OFF. Lalu hidupkan kembali menggunakan
      tombol yang sama.

6.5 Buka septum holder.

6.6 Tekan tombol ”Proceed” (panah kanan)

6.7 Instrumen akan melakukan drain selama 10 detik.

6.8 Proses akan dilanjutkan dengan purging selama 120 detik. Ketika selesai, akan ada
      bunyi biip.

6.9 Pasang septum baru ke septum holder, lalu pasang ke instrumen. Tekan tombol ”Proceed”
      (panah kanan)
      Note : Pemakaian septum max. 5 kali.

6.10 Instrumen akan melakukan evacuating selama 300 detik, dan ketika selesai akan
      mengeluarkan bunyi bip.


7 Prosedur

7.1 Dinginkan wadah berisi sampel dalam penangas air es atau refrigerator untuk mencapai
      32-34 oF. Biarkan 30 menit untuk mencapai suhu ini jika sampel dimulai pada suhu kamar.

7.2 Lap bagian atas wadah sampel hingga kering dan buka wadah untuk meyakinkan bahwa
      kandungan cairan dalam wadah sampel adalah antara 70% dan 80% dari kapasitas wadah
      sampel.

7.2.1 Jika isi wadah lebih dari 80%, tuangkan sampel agar wadah terisi dalam kisaran 70%
      volume.

7.2.2 Buang sample jika wadah terisi kurang dari 70%.

7.3 Tutup kembali wadah sampel dan kocok kuat-kuat. Simpan kembali wadah sampel ke dalam
      penangas air es selama minimal dua menit.

7.4 Pipet 3 mL sampel menggunakan syringe, tekan tombol "proceed".

7.5 Injeksikan sampel ke dalam instrumen.

7.6 Tekan ”Proceed” (panah kanan).

7.7 Instrumen akan membaca sekitar 2-4 menit. Setelah selesai, hasil akan ditampilkan :

7.8 Putar knob untuk menampilkan hasil dalam unit DVPE, EPA Crude atau Pabs.

7.9 Catat Hasil.


8 Perhitungan

8.1 Hitung DVPE berdasarkan persamaan berikut:

DVPE (kPa/psi) = (0,965X) - A *

Dimana;
X   =   total vapor presusre terukur dalam kPa (psi), dan
A   =   3.78 kPa (or 0.548 psi)


9 Referensi

1. Setavap II Operation Manual

2. ASTM D5191-01

Monday, 16 November 2015

Cara Uji Sulfat dalam Air dengan ISE Meter

0 comments


Prinsip

Ion sulfat bereaksi dengan barium klorida dalam suasana asam akan membentuk suspensi barium sulfat dengan membentuk kristal barium sulfat yang sama besarnya diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm.

Reaksi: SO4 2- + BaCl2 -- BaSO4 + 2Cl-


Pereaksi

a) air suling bebas sulfat;

b) kertas saring bebas sulfat;

c) Barium klorida, BaCl2.2H2O;

d) Natrium sulfat anhidrat, Na2SO4;

e) larutan buffer A :
     larutkan 30 g magnesium klorida heksahidrat, MgCl2.6H2O, 5 g natrium asetat trihidrat,
     CH3COONa.3H2O, 1 g kalium nitrat, KNO3 dan 20 mL asam asetat, CH3COOH (99%) dalam
     500 mL air suling bebas sulfat dan tepatkan sampai 1000 mL;

f) larutan buffer B :
     larutan buffer b (diperlukan bila konsentrasi sulfat, SO42- kurang dari 10 mg/L); larutkan 30 g
     magnesium klorida heksahidrat, MgCl2.6H2O, 5 g natrium asetat trihidrat, CH3COONa.3H2O,
     1 g kalium nitrat, KNO3, 0,111 g natrium sulfat, Na2SO4 dan 20 mL asam asetat, CH3COOH
     (99%) dalam 500 mL air suling bebas sulfat dan tepatkan sampai 1000 mL.


Peralatan

a) spektrofotometer yang dapat digunakan pada panjang gelombang 420 nm;

b) labu ukur 50 mL, 200 mL dan 1000 mL;

c) pipet ukur 5 mL, 10 mL, 20 mL, 25 mL dan 50 mL;

d) erlenmeyer 100 mL dan 250 mL;

e) oven;

f) desikator; dan

g) timbangan analitik.


Persiapan dan pengawetan contoh uji

a) Saring contoh uji dengan kertas saring bebas sulfat.

b) Apabila tidak dapat segera dianalisa maka contoh uji disimpan pada suhu 4 0C dengan waktu
     simpan tidak lebih 28 hari.


Persiapan pengujian

1. Pembuatan larutan induk sulfat, SO42- 100 mg/L

a) Keringkan serbuk Na2SO4 anhidrat dalam oven pada suhu 105 0C selama 24 jam kemudian
     dinginkan dalam desikator.

b) Timbang 1,479 g Na2SO4 anhidrat dan larutkan dengan air suling bebas sulfat dalam labu ukur
     1000 mL.

c) Tepatkan sampai tanda tera dan kocok sampai homogen.


2. Pembuatan larutan kerja sulfat, SO42-

a) Pipet 0 mL; 10 mL; 20 mL dan 30 mL larutan baku sulfat 100 mg/L, masukkan ke dalam labu
     ukur 100 mL.

b) Tambahkan air suling bebas sulfat sampai tanda tera sehingg diperoleh konsentrasi sulfat:
     0,0 mg/L; 10,0 mg/L; 20,0 mg/L dan 30,0 mg/L.


3. Pembuatan kurva kalibrasi

a) Optimalkan spektrofotometer sesuai petunjuk alat untuk pengujian kadar sulfat.

b) Pindahkan masing-masing 50 mL larutan kerja sulfat ke dalam erlenmeyer 250 mL.

c) Tambahkan 20 mL larutan buffer dan homogenkan dengan cara di aduk menggunakan
     pengaduk magnet pada kecepatan tetap selama (60 + 2) detik, sambil di aduk tambahkan
     0,2 g sampai dengan 0,3 g barium klorida, BaCl2.

d) Lakukan pengukuran dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm setelah
     (5 + 0,5) menit penambahan barium klorida.

e) Buat kurva kalibrasi untuk mendapatkan persamaan garis regresi.


Prosedur Analisis

a) Gunakan 100,0 mL contoh uji, masukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL.

b) Lakukan analisis pada langkah 3 (pembuatan kurva kalibrasi) butir b) sampai dengan d).

c) Lakukan analisis duplo / triplo.

d) Buat spike matrix dengan cara sebagai berikut:
     Ambil 50 mL contoh uji, di tambah 20 mL larutan baku sulfat 1,0 mg/mL dan encerkan
     dengan air suling hingga volumenya 100,0 mL, masukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL;
     lakukan langkah a) sampai dengan b).


Perhitungan

Konsentrasi sulfat (mg/L) = C x f

dengan pengertian:
C      adalah konsentrasi contoh uji hasil pengukuran;
f      adalah faktor pengenceran.


Referensi

SNI 06-6989.20-2004

Sunday, 15 November 2015

Cara Uji TOC (Total Organic Carbon) dalam Air

0 comments


Prinsip

Contoh uji yang telah homogen, diaspirasikan ke dalam tabung pembakaran yang dibungkus dengan katalis oksidatif dan dipanaskan pada suhu 680 oC. Air akan menguap dan bahan organik teroksidasi menjadi CO2 dan H2O. CO2 yang dihasilkan dialirkan bersama gas pembawa dan ukur respon detektor dengan Nondispersive Infrared Analyzer (NDIR). Dari hasil pengukuran, di dapat nilai karbon total dan karbon anorganik secara terpisah, sedangkan nilai TOC didapat dari selisihnya.



Pereaksi

a) air suling bebas karbon;

b) kalium hidrogen ftalat (C8H5KO4);

c) natrium karbonat (Na2CO3);

d) natrium hidrogen karbonat (NaHCO3); dan

e) gas oksigen murni bebas CO2 yang mengandung hidrokarbon sebagai metan lebih kecil dari 1 mg/L.



Peralatan

a) TOC analyzer;

b) timbangan analitik;

c) penyaring dengan ukuran pori 0.45 µm;

d) labu ukur 50 mL ; 100 mL dan 1000 mL;

e) pipet volumetrik 10 mL; 25 mL dan 50 mL;

f) labu semprot;

g) desikator; dan

h) oven.



Persiapan pengujian

A. Persiapan contoh uji

a) masukkan contoh uji kedalam labu ukur 50 mL;

b) bila contoh uji diawetkan, lakukan purging dengan mengalirkan gas oksigen murni ke dalam contoh uji.

CATATAN Purging dilakukan hingga nilai IC lebih kecil atau sama dengan nilai TC minimal selama 5 menit (purging dilakukan untuk menghilangkan CO2 terlarut).

B. Pembuatan larutan induk karbon total (TC) 1000 mg/L

Timbang teliti 2,1254 g kalium hidrogen ftalat (C8H5KO4) yang telah dipanaskan pada suhu 110 oC kurang lebih 1 jam, angkat dan dinginkan di desikator. Larutkan dengan air suling bebas karbon dalam labu ukur 1000 mL lalu tepatkan sampai tanda tera dan dihomogenkan.

CATATAN Awetkan dengan menambahkan 1 mL H2SO4 atau H3PO4 sampai pH lebih kecil dari 2 dan simpan pada suhu 4 oC.

C. Pembuatan larutan baku karbon total (TC) 100 mg/L

Pipet 10 mL larutan induk karbon total (TC) 1000 mg/L ke dalam labu ukur 100 mL, encerkan dengan air suling bebas karbon hingga tanda tera dan dihomogenkan.
.
D. Pembuatan larutan kerja karbon total (TC)

a) pipet 0,0 mL; 10,0 mL; 25,0 mL dan 50,0 mL larutan baku karbon total (TC) 100 mg/L dan masukkan masing-masing ke dalam labu ukur 50 mL;

b) encerkan dengan air suling bebas karbon lalu tepatkan sampai tanda tera kemudian dihomogenkan sehingga larutan ini mempunyai konsentrasi 0 mg/L; 20 mg/L; 50 mg/L dan 100 mg/L karbon total.

E. Pembuatan larutan induk karbon anorganik (IC) 1000 mg/L

a) Timbang 3,497 g NaHCO3 yang telah disimpan dengan desikator selama 18 jam.

b) Timbang 4,4122 g Na2CO3 yang telah dipanaskan pada suhu 120 oC, kurang lebih 1 jam, dinginkan.

c) Larutkan keduanya dengan air suling bebas karbon, pindahkan ke dalam labu ukur 1000 mL. Tepatkan hingga tanda tera.

E. Larutan baku karbon anorganik (IC) 100 mg/L

Pipet 10 mL larutan induk karbon anorganik (IC) 1000 mg/L ke dalam labu ukur 100 mL encerkan dengan air suling bebas karbon hingga tanda tera.

F. Pembuatan larutan kerja karbon anorganik (IC)

a) pipet 0,0 mL; 10,0 mL; 25,0 mL dan 50,0 mL larutan baku karbon anorganik (IC) 100 mg/L dan masukkan masing-masing ke dalam labu ukur 50 mL;

b) encerkan dengan air suling bebas karbon lalu tepatkan sampai tanda tera kemudian dihomogenkan, sehingga larutan ini mempunyai konsentrasi 0 mg/L; 20 mg/L; 50 mg/L dan 100 mg/L karbon anorganik.



Prosedur dan pembuatan kurva kalibrasi

a) Optimalkan alat TOC analyzer sesuai petunjuk penggunaan alat.

b) Ukur respon detektor masing-masing larutan kerja.

c) Buat kurva kalibrasi untuk mendapatkan persamaan garis regresi.

d) Lanjutkan dengan pengukuran contoh uji yang sudah dipersiapkan.



Perhitungan

Konsentrasi karbon organik total (TOC) mg/L.

TOC = (TC – IC) x fp

dengan pengertian:

TOC     adalah karbon organik total dalam contoh uji (mg/L);
TC       adalah total karbon hasil pengukuran (mg/L);
IC       adalah karbon anorganik hasil pengukuran (mg/L);
fp       adalah faktor pengenceran.


Referensi

SNI 06-6989.28-2005

Wednesday, 11 November 2015

SOP Automatic Pour Point (ASTM D97) dan Cloud Point (ASTM D2500)

0 comments




Pour Pint Analyzer



PENGUJIAN SAMPLE

Peralatan yang digunakan

1. Main unit
2. Personal PC dengan Software (LabLink)
3. Printer
4. Test jar
5. Cleaning solvent

PROSEDUR

a) Nyalakan instrumen --  Nyalakan PC -- Click software LABLINK





click software LABLINK


b) Tampil menu seperti di samping, Kode warnanya Hijau, adalah alat yang aktif dan catatan di bawahnya adalah keterangan fungsi alat





Tampilan Menu Utama


CATATAN:

Bila tidak ada yang aktif sama sekali (semua Hitam) kemungkinan sebagai berikut;
a) Kabel data terlepas
b) USB adapter rusak atau terlebas koneksi nya
c) Port nya berubah sehingga perlu di setting ulang
d) Alat belum di nyalakan

Tabel 1



Tabel 1


Kondisi temperature pengujian Bath sesuai ASTM D97 dan 2500

A. Persiapan Software CLOUD POINT


Pilih alat yang digunakan1. Click alat yang di gunakan (dalam hal ini 1)

2. Tampil menu seperti gambar

3. Isi Operator dan File name

4. Pilih Methods

5. Pilih Cloud

6. Lalu Pilih pekerjaannya, rekomendasi ASTM D2500 (yaitu bath akan di turunkan secara bertahap

7. Delta 3% adalah default

Ket : Delta 3% adalah besaran dari nilai cloud, misalkan awalnya adalah 30 maka Cloud akan di dapat pada saat 30 – 3%

Sensor : menggunakan Optical sensor, berapa banyak sinyal yang dikirimkan, dibandingkan dengan sinar yang diterima (Light Value)


B. Perisapan Software POUR POINT


Pilih alat yang digunakan1. Click alat yang di gunakan (dalam hal ini 1)

2. Tampil menu seperti gambar

3. Isi Operator dan File name

4. Pilih Methods

5. Pilih Pour

6. Pilih pengerjaannya

CATATAN:

* ASTM D97 (int) = pada saat running : sample akan dipanaskan terlebih dahulu di dalam alat, sampai temperature sample 45°C lalu di turunkan hingga mendekati Expected temperature, dengan step seperti table 1. Kemudian akan dilakukan pengujian sample dengan kelipatan 3°C dimulai dari +9°C dari temperature expected.

* ASTM D97 (ext) = bila sample telah dipanaskan sebelumnya (di luar alat), sample akan langsung di dinginkan sesuai bath table 1. Dan penguian sesuai dilanjutkan seperti D97 int

7. Isi Expected Pour Point (Nilai perkiraan)

8. Untuk Tilt Out Each (adalah pada kelipatan temperature berapa di cek Pour point nya) Default ASTM adalah tiap 3°C.


D. Pengujian (CLOUD) – ASTM D2500

1. Pilih prosedur software Cloud seperti diatas
Posisi Jar
2. Jar akan bergerak miring 45° (posisi pengisian sample)

3. Keluarkan Jar, dan Bersihkan Jar dan probe dan keringkan

4. Permukaan dasar jar harus bersih dan mengkilap

5. Panaskan sample 14°C diatas perkiraan cloud point sample

6. Hilangkan Moisture dari sample dengan menggunakan filter sampai sample benar-benar bersih (lakukan pada temperature 14°C diatas perkiraan)

7. Tuang sample ke Jar sampai garis bawah Jar

8. Pasang Test Jar ke Sensor dan kencangkan (hati-hati jangan terlalu keras dan di perhatikan posisi kemiringannya

9. Bila sudah yakin maka, Tekan tombol test (TAHAN)

10. Perhatikan posisi sample (harus pada garis)

11. Bila sudah OK, maka tekan tombol start

12. Alat akan otomatis membaca Cloud point sample (dicek tiap setiap kelipatan 1°C)

13. Bila selesai akan ditampilkan nilainya



E. Pengujian (POUR) – ASTM D97

1. Pilih prosedur software pour seperti diatas

2. Jar akan miring (posisi pengisian sample)

3. Bersihkan Jar dan keringkan

Preparasi External Heating (D97 ext)

4. Untuk Sample pour ≥ -33°C  Panaskan sample tanpa di aduk diatas 9°C suhu perkiraan, tetapi tidak melebihi 45°C (gunakan bath 48°C)

5. Untuk Sample pour ≤ -33°C  Panaskan sample tanpa di aduk pada bath 48°C selama suhu perkiraan, tetapi tidak melebihi 45°C

Preparasi Internal Heating (D97 int) == tanpa persiapan pemanasan sample diluar

Peringatan :
selalu memasukan sample sebelum melakukan pengisian Form, karena robot akan otomatis mengecek fungsi alat setelah form di isi.


PENGUJIAN

1. Tuang sample ke Jar sampai garis bawah Jar

2. Pasang Test Jar ke Sensor dan kencangkan (hati-hati jangan terlalu keras dan di perhatikan posisi kemiringannya

3. Bila sudah yakin maka, Tekan tombol test (TAHAN)

4. Perhatikan posisi sample (harus pada garis)

5. Bila sudah OK, maka tekan tombol start

6. Alat akan otomatis Mencari Pour point sample setiap 3°C, dimulai dari temperature sample 9°C diatas expected temperature

7. Bila selesai akan ditampilkan nilainya

Note : Nilai Pour point adalah nilai temperature beku ditambah 3°C, Laporan sudah di tambahkan nilai 3°C sehingga tidak perlu ditambahkan 3°C lagi


CALIBRATION

Peralatan yang digunakan
1. PT100 Calibrator
2. Plug


Kalibrasi T-Bath POUR

1. Clik icon Diagnostic

2. Click unit yang aktif (nomer 1)

3. Akan tampil menu seperti di samping

4. Click Calibration  Pilih Pour atau Cloud  pilih T Bath

5. Lepaskan Plug di depan alat

6. Gantikan dengan Plug Kalibrator (warna Hitam)

7. Atur kalibrator pada +50

8. Perhatikan kolom Tbath, Ptc100 dan Nilai di sebelah nya.

9. Normalnya akan mendekati angka 50.00 (bila telah dikalibrasi sebelumnya) = Nilai pembacaan temperature dari simulator.

10. Perhatikan Temp1 Click Calibrate, tunggu hingga selesai,

11. Lanjutkan Tzero, atur calibrator pada 0°C, Click Calibrate

12. Lanjutkan Temp2 , atur calibrator pada -50°C, Click Calibrate

13. Calibration success bila Proses sesuai

14. Close

15. Lepaskan Plug kalibrator,

16. Pasang kembali Plug alat



Kalibrasi T-Sample POUR

1. Click Calibration -- Pilih Pour -- pilih T Sample

2. Lepaskan Plug Diatas (warna Putih)

3. Gantikan dengan Plug Kalibrator (warna putih)

4. Atur kalibrator pada +50 (Temp1)

5. Perhatikan Temp1 Click Calibrate, tunggu hingga selesai,

6. Lanjutkan Tzero, atur calibrator pada 0°C, Click Calibrate

7. Lanjutkan Temp2 , atur calibrator pada -50°C, Click Calibrate

8. Close

9. Lepaskan Plug kalibrator,

10. Pasang kembali Plug Sensor putih ke posisi semula


Kalibrasi T-Sample Cloud

1. Click Calibration -- Pilih cloud -- pilih T Sample

2. Lepaskan Plug Diatas (warna Biru)

3. Gantikan dengan Plug Kalibrator (warna putih)

4. Atur kalibrator pada +50 (Temp1)

5. Perhatikan Temp1 Click Calibrate, tunggu hingga selesai,

6. Lanjutkan Tzero, atur calibrator pada 0°C, Click Calibrate

7. Lanjutkan Temp2 , atur calibrator pada -50°C, Click Calibrate

8. Close

9. Lepaskan Plug kalibrator,

10. Pasang kembali Plug Sensor biru ke posisi semula


Kalibrasi T-Detection POUR

1. Click Calibration -- Pilih Pour -- pilih Detection

2. Lepaskan kedua Plug Diatas (warna coklat)

3. Gantikan plug coklat ke1 dengan Plug Kalibrator (warna putih)

4. Gantikan plug coklat ke2 dengan Plug Kalibrator Jumper (warna coklat)

5. Atur kalibrator pada +50 (Temp1)

6. Perhatikan Temp1 Click Calibrate, tunggu hingga selesai,

7. Lanjutkan Tzero, atur calibrator pada 0°C, Click Calibrate

8. Lanjutkan Temp2 , atur calibrator pada -50°C, Click Calibrate

9. Close

10. Lepaskan ke dua Plug kalibrator,

11. Pasang kembali kedua Plug Sensor coklat ke posisi semula


Referensi

KOEHLER KLA-3-TS Automatic Manual

ASTM D97

ASTM D2500

Tuesday, 10 November 2015

SOP Microwave - ANTON PAAR- Multiwave 3000

0 comments





Microwave-Mutiwave 3000


A. PREPARASI VESSEL DAN METHODE PROGRAM

Pressure vessel1. Persiapkan Pressure vessel yang akan digunakan pastikan dalam keadaan bersih, kering dan tanpa cacat fisik.

Sunday, 8 November 2015

Calibration Procedure for UV - VIS Spectrophotometer

0 comments


PURPOSE

UV-Vis SpectroThese instructions apply to the Varian CARY 1 UV - Vis Spectrophotometer. The calibration is carried out as per AS 3753 - 1990 “Recommended practice for chemical analysis by ultraviolet/visible spectrophotometry”.

PROCEDURE

A. WAVELENGTH ACCURACY:

AS 3753 - 1990 Section 3.1.2.2 (c) and UV-Vis Cary 1E & 3E Operation manual - Section 7.7. ;

1. Using a purchased Holmium perchlorate standard (5 % w/v solution holmium oxide (HO2O3) in 1.4 N perchloric acid).

2. The wavelengths to be monitored are:

241.0, 250.0, 278.5, 333.0, 345.0, 361.5, 385.5, 416.5, 451.0, 486.0, 536.6, 536.6, 641.0 nm.

3. From the Index page, press the P key to take you to the Parameters page.

4. Press the “Edit” (F2) function key and set the following parameters:

Abscissa nm
Ordinate (Y) min/max 0.5/4.0
Abscissa (X) min/max 236.0/246.0 )*
SBW (nm) 0.2
Signal averaging time (sec) 0.067
Data interval 0.02
Scan rate 18
Lamps on UV-Vis
Base line correct off
Auto scale Yes
Auto store data No
Auto store report No
)* Set the min/max wavelength at least 5 nm away from the wavelength being monitored.

5. Press the Esc key to confirm your selections and return to the command line.

6. Press the A key to go to the Advanced Parameters page.

7. Press the “Edit” (F2) function key and set the following parameters.

Press change (nm) 700
Beam mode Single
Gain 170
Beam interchange Normal
Cycle count/Replicate 1
Collection mode Default

The other parameters will not affect your measurement.

Press the Esc key to confirm your selections and return to the command line.

8. Fill a quartz cell with holmium perchlorate solution and place in the cell holder, close the sample compartment lid and press the “Start” (F8) function key.

9. When the scan is complete, press the M key and then the C key to activate the cursor.

10. Press the Enter key to select ‘Current” and then the X key to select the Peak cursor.

11. The cursor will move to the top of the peak. The wavelength and the absorbance will show in the command line.

12. Press Clt key and Print Screen key to print out the peak.

13. Record the wavelength at which the absorbance is at a maximum on ENFM (73).

14. Repeat steps 3 to 13 for each of the selected wavelengths in turn.

15. The recorded wavelength should be within  1 nm of the nominal wavelength , at all selected wavelengths. Notify the Laboratory Manager if the values are out of specification.

B. ABSORBANCE ACCURACY:

AS 3753 - 1990 Section 3.1.4.

1. Dry a quantity of analytical reagent grade potassium dichromate by heating to constant mass at 130 ± 5 degC.

2. Weigh 0.600 ± 0.003 g of potassium dichromate, and dissolve in sufficient 0.05 mol/L sulphuric acid to produce 1 L of solution.

3. Pipette 10.0 mL of this solution into a 100 mL volumetric flask, and dilute to volume with distilled water.

4. Measure the absorbance of the solution, using distilled water as the reference solution, at 235 nm, 257 nm, 313 nm and 350 nm . The absorbance of the solution at each of these wavelengths should be within ± 0.01 absorbance units of the value specified in Table 1.

Table 1. Absorbance Values for Potassium Dichromate Solution

Wavelength (nm) Absorbance
235 0.747
257 0.864
313 0.292
350 0.640

C. LINEARITY:

Use calibration data from routine laboratory work.

D. STRAY RADIATION ( LIGHT ):

AS 3753 - 1990 Section 3.1.3.

1. Fill a 10 mm cell with distilled water and place in the reference cell position.

2. Fill another 10 mm cell with the required test liquid, and place in sample position.

3. Set the wavelength at a reading 100 nm higher than the test wavelength, and set 100 % transmission.

4. Measure the transmission at the test wavelength.

5. Repeat for each test wavelength.

NOTE: Any transmission recorded is due to stray light. Stray light within the instrument should be less than 1 % transmission.

Table 2. Liquids and Instrument Conditions for Determining Stray Radiation.

Spectral range (nm) Test Wavelength (nm) Liquid
210 - 259 220 1% (m/V) Aqueous Nal
250 - 320 285 Aceton
300 - 385 350 5% (m/V) Aqueous NaNO2

Thursday, 5 November 2015

Cara Uji SO2 (metoda pararosanilin) di Udara ambien

1 comments


Prinsip

Gas sulfur dioksida (SO2) diserap dalam larutan penyerap tetrakloromerkurat membentuk senyawa kompleks diklorosulfonatomerkurat. Dengan menambahkan larutan pararosanilin dan formaldehida, kedalam senyawa diklorosulfonatomerkurat maka terbentuk senyawa pararosanilin metil sulfonat yang berwarna ungu. Konsentrasi larutan di ukur pada panjang gelombang 550 nm.

Cara Uji NO2 (metoda Griess Saltzman) di Udara Ambien

0 comments


Prinsip

Gas nitrogen dioksida diserap dalam larutan Griess Saltzman sehingga membentuk suatu senyawa azo dye berwarna merah muda yang stabil setelah 15 menit. Konsentrasi larutan ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 550 nm.

Cara Uji Amoniak (metoda indofenol) di Udara Ambien

2 comments


Prinsip

Amoniak dari udara ambien yang telah dijerap oleh larutan penjerap asam sulfat, akan membentuk amonium sulfat. Kemudian direaksikan dengan fenol dan natrium hipoklorit dalam suasana basa, akan membentuk senyawa komplek indofenol yang berwarna biru. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 630 nm.

Monday, 2 November 2015

Cara Uji Surfactan (MBAS)

0 comments


PRINSIP

Surfaktan anionik bereaksi dengan biru metilen membentuk pasangan ion berwarna biru yang larut dalam pelarut organik. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 652 nm. Serapan yang terukur setara dengan kadar surfaktan anionik.

INTERFERENSI

Kotoran-kotoran berupa detergen dapat mempengaruhi hasil pengukuran.

PERALATAN

1. Spektofotometer, digunakan pada panjang gelombang 652 nm, dengan cuvet sepanjang 5 cm
    atau lebih.
2. Corong pemisah, 500 mL
3. Pipet 25 mL
4. Gelas ukur 10 mL
5. Labu ukur 100 mL
6. Corong


PEREAKSI

1. Air Milli-Q

2. Larutan indikator phenolphthalein dalam alkohol

3. Larutan NaOH 1N
    Larutkan 4 gram NaOH dalam 100 mL air Milli-Q

4. Larutan H2SO4 6 N
    Larutkan 16,8 mL H2SO4 pekat ke dalam 50 mL air Milli-Q, aduk dan tambahkan air Milli-Q
    hingga volumenya menjadi 100 mL

5. Larutan H2SO4 1 N
    Larutkan 16,7 mL H2SO4 6N ke dalam 50 mL air Milli-Q, aduk dan tambahkan air Milli-Q hingga
    volumenya menjadi 100 mL

6. Kloroform

7. Pereaksi methylene Blue
    Larutkan 30 mg Methylene Blue ke dalam 500 mL air Milli-Q ke dalam labu ukur 1000 mL,
    tambahkan 41 mL H2SO4 6 N, dan 50 gram NaH2PO4.H2O. Aduk hingga larut kemudian
    tambahkan air Milli-Q hingga volumenya menjadi 1000 mL

8. Larutan Standar LAS 1000 mg/L (dari supplier)

9. Larutan Standar LAS 10 mg/L
    Pipet 1 mL Larutan Standar 1000 mg/L LAS ke dalam labu ukur 100 mL, tambahkan air Milli-Q
    hingga volumenya mencapai 100 mL.


PROSEDUR ANALISIS

A. Kalibrasi

Buatlah kurva kalibrasi dengan menyiapkan larutan standar berdasarkan table di bawah ini
Volume larutaan std. LAS 10 ppm (mL) Volume akhir larutan (mL) Konsentrasi (mg/L)
0 250 0
0.25 250 0.01
0.50 250 0.02
1.00 250 0.04
2.00 250 0.08


B. Cara Kerja


1. Siapkan 250 mL sampel, kemudian masukkan ke dalam corong pemisah 500 mL.

2. Tambahkan 2 tetes indikator pp.

3. Tambahkan NaOH 1 N hingga menjadi basa (akan terbentuk warna pink).

4. Hilangkan warna pink yang timbul dengan menambahkan H2SO4 1 N.
Ekstraksi MBAS5. Tambahkan larutan biru metilen sebanyak 25 mL.

6. Tambahkan 10 mL kloroform.

7. Sebelum mengocok corong pemisah, buka tutup labu pemisah untuk mengeluarkan
    gas yang terbentuk dari kloroform.

8. Kocok selama 30 detik dan biarkan fase terpisah. PERHATIAN: Buka tutup labu pemisah secara
    periodik selama pengocokan untuk mencegah terjadi gas dari kloroform.
    Catatan : pengocokan yang terlalu kuat bisa menimbulkan emulsi. Jika emulsi yang
    terbentuk bersifat persisten tambahkan isopropyl alcohol (tidak boleh melebihi 10 mL).
    Volume yang sama juga ditambahkan pada semua standar dan sampel.

9. Goyangkan labu pemisah dengan perlahan, biarkan kloroform turun.

10. Pisahkan lapisan bawah (fasa kloroform) dan tampung dalam corong pemisah 250 mL.

11. Ekstraksi kembali fasa air dalam corong pemisah dengan mengulangi langkah 6 sampai 10
      sebanyak 2 kali dan satukan semua fasa kloroform.

12. Tambahkan 50 mL larutan pencuci ke dalam fasa kloroform gabungan dan kocok kuat-kuat
      selama 30 detik.

13. Biarkan terjadi pemisahan fasa, goyangkan perlahan-lahan.

14. Keluarkan lapisan bawah (kloroform) melalui melalui corong yang mengandung glass wool
      (yang telah dibilas dengan kloroform), dan ditampung ke dalam labu ukur 100 mL.

15. Ekstrak larutan pencuci sebanyak 2 kali dengan 10 mL dan gabungkan dengan fasa kloroform
      pada labu ukur pada langkah 14.

16. Cuci glass wool dengan kloroform sebanyak 10 mL dan gabungkan dengan fasa kloroform
      pada labu ukur tadi.

17. Tepatkan isi labu ukur hingga tanda tera dengan kloroform.

18. Ukur dengan spektrofotmeter pada panjang gelombang 652 nm dan catat serapannya.


PERHITUNGAN

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan kurva regresi linier yang diperoleh dari software spectrophotometer. Tulis hasil pembacaan dalam komputer dikalikan dengan faktor pengenceran (jika ada).

Cara Uji Oil & Grease di Air

1 comments


PRINSIP


Ekstrasi Oil and Grease1. Sampel air diasamkan dan diekstrak dengan heksan dan disaring
    dengan Na2SO4 anhidrat, plus silica gel untuk Mineral Oil and
    Grease, lalu ekstraknya ditampung dalam cawan alumunium yang
    sebelumnya telah ditimbang. Pelarutnya dibiarkan menguap
    selama semalam di dalam lemari asam sehingga didapat residu oil
    and grease saja.

2. Parameter analisa Oil and Grease dapat mendeteksi keberadaan “Extractable Organic
    Compound” dengan bobot molekul lebih besar daripada nC14 – nC16, meski komponen yang
    lebih ringan tak akan terhitung karena hilang sebagian selama proses penguapan.

INTERFERENSI

1. Residu dari sample dengan kadar Oil and Grease yang tinggi mempunyai kecenderungan
    untuk melewati dinding cawan alumunium. Jika ini terjadi, gunakan cawan alumunium lain
    yang telah ditimbang, atau ekstrak dibagi dua.

2. Hindari agar Na2SO4 tidak terbawa ke dalam cawan alumunium, sebab ini merupakan sumber
    kesalahan sehingga hasil analisa menjadi lebih besar. Jika ini terjadi, bilas cawan dengan
    heksan untuk melarutkan Oil and  Grease dan pindahkan ekstrak ke cawan lain yang telah
    ditimbang. Bilas cawan sebelumnya sebanyak 3 kali dengan heksan untuk meyakinkan bahwa
    semua residu telah dipindahkan.

3. Zat-zat non hidrokarbon seperti surfactant atau garam-garam lain bisa terekstrak bersama
    dengan Oil and grease berbentuk pasta atau kristal. Kontaminasi sodium sulfat tampak
    seperti residu berwarna seperti awan di dalam cawan.

PERALATAN

1. Analytical Balance
2. Kertas saring Whatman No. 41
3. Corong Pemisah 1 L
4. Corong gelas
5. Cawan alumunium
6. Gelas ukur 50 mL
7. Labu ukur 50 mL


PEREAKSI

1. Air Milli-Q

2. Larutan HCl 1:1
    Larutkan 100 mL HCl pekat dengan 100 mL air
    Milli-Q ke dalam botol HDPE tambahkan lagi air Milli-Q hingga volumenya menjadi 250 mL.
    Larutan ini harus disimpan pada suhu ruang dan kadaluarsa setelah 6 bulan.

3. DCM (Dichloromethane)

4. Heksan

5. Air Milli-Q

6. Sodium Sulfate Anhydrate

7. Larutan 200000 ug/mL Oil and Grease
    Timbang 10.0 gram Mineral Oil ke dalam 50 mL labu ukur yang telah dibilas dengan DCM.
    Tambahkan DCM hingga volumenya menjadi 50 mL.. Larutan ini harus disimpan pada suhu
    ruang dan kadaluarsa setelah 6 bulan.


PROSEDUR ANALISIS

A. Kalibrasi

    Lakukan kalibrasi timbangan analitik sesuai prosedur.


B. Langkah Kerja

1. Persiapan Awal

a) Panaskan sejumlah pan alumunium yang sudah diberi label di dalam oven pada suhu 105 °C
    selama 1 jam, dinginkan dalam desikator, lalu timbang sebagai bobot pan kosong.

b) Bilas semua peralatan gelas yang akan digunakan dengan heksan.

2. Ekstraksi Sampel

a) Ukur 500 mL sampel dengan gelas ukur, lalu masukkan ke dalam corong pemisah 1 L.

b) Asamkan sampel (bila belum diawetkan dengan menambahkan 1 mL HCl 1:1

c) Tuangkan 30 mL heksan pada botol sampel dan tutup botol dengan tutup botol yang asli.
    Kocok botol untuk membilas semua bagian botol, termasuk penutup botol. Tuangkan
    ke dalam corong pemisah.

d) Ekstraksi sampel dengan mengocok corong pemisah selama 2 menit. Keluarkan gas dengan
    membuka stopcock di dalam fume hood.

e) Biarkan fasa organik terpisah dari fasa cair selama 10 menit. Jika terbentuk emulsi yang
    stabil, goyangkan secara perlahan-lahan selama 5 – 10 menit.

f) Tuangkan fasa cair (bagian bawah) ke dalam botol sampel asli.

g) Tuangkan fasa organik (heksan) dari corong pemisah ke dalam pan alumunium melalui
    corong yang mengandung natrium sulfat anhidrat.

h) Ulangi ekstraksi dua kali menggunakan 30 mL heksan, gabungkan hasil ekstraksi ke dalam
    pan alumunium yang sudah ditimbang melalui corong yang mengandung
    natrium sulfat anhidrat.

i) Bilas corong pemisah, kertas saring dan corong dengan 5-10 mL heksan. Kumpulkan ke dalam
    pan alumunium.

j) Apabila hasil ekstraksi terdapat air (nampak seperti cairan susu), biarkan larutan selama satu
    jam agar air turun. Tuangkan fasa organik (bagian atas) melalui corong yang mengandung
    natrium sulfat anhidrat untuk menghilangkan air.

k) Siapkan blanko metoda dengan menggunakan 500 mL air Milli-Q ke dalam corong pemisah 1 L
    dan lakukan seperti sampel di atas.

l) Siapkan spike metoda dengan menambahkan 25 uL mineral oil ke dalam 500 mL air Milli-Q,
    lalu dimasukkan ke dalam corong pemisah dan lakukan seperti pada sampel.

m) Letakkan pan alumunium berisi heksan di dalam lemari asam dan biarkan menguap selama
    semalam

n) Timbang pan yang sudah kering sebagai bobot pan+residu

(o) Bila terlihat ada natrium sulfat yang terbawa ke dalam pan (terlihat adanya serbuk putih),
    larutkan kembali residu dengan Hexane, saring dengan kertas saring yang sudah dibasahi
    dengan Hexane ke dalam pan kosong yang sudah ditimbang, keringkan lagi selama semalam
    lalu timbang kembali sebagai bobot pan+residu.


PERHITUNGAN

Oil and Grease (mg/L) = (bobot pan+residu (mg) – bobot pan kosong (mg) x 1000)) / Volume sample (mL)

Cara Uji Fenol dalam Air

0 comments


PRINSIP ANALISIS

Fenol bereaksi dengan 4-aminoantipyrin dengan penambahan K3Fe(CN)6 pada pH 10 dengan menghasilkan warna merah-coklat antipyrin yang stabil. Kepekatan warna yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi/kandungan fenol.


INTERFERENSI

1. Untuk kebanyakan sampel diperlukan proses destilasi sebagai perlakuan awal untuk
    memisahkan zat-zat pengotor.

2. Respon warna fenol dengan 4-aminoantipyrine tidak sama untuk semua senyawa fenol, sebab
    senyawa fenol yang berasal dari limbah biasanya mengandung berbagai jenis fenol, sehingga
    tidak dapat dijadikan sebagai standar. Karena itu dipilih fenol yang spesifik sebagai standar.
    Warna yang berasal dari senyawa fenol lainnya dapat dilaporkan sebagai senyawa fenol, nilai
    ini sebagai representasi konsentrasi minimum dari senyawa fenol yang terdapat dalam
    sampel.

3. Interferen yang berasal dari senyawa sulfur dapat dihindari dengan mengasamkan sample
    sampai pH kurang dari 4 dengan H2SO4.

4. Zat pengoksidasi seperti khlorin, dapat dideteksi dengan penambahan KI dalam suasana asam
    yang akan menghasilkan iodin. Khlorin dapat dihilangkan dengan cepat setelah sampling
    dengan penambahan Ammonium Ferro Sulfat. Jika klorin tidak dihilangkan, senyawa fenol
    akan teroksidasi dan menyebabkan hasilnya lebih rendah.


PERALATAN

1. Spektrofotometer dengan panjang gelombang 460 – 510 nm
2. Alat destilasi
3. pH Meter
4. Corong
5. Labu Kocok
6. Kertas Saring
7. Tabung Reaksi
8. Rak Tabung Reaksi
9. Cuvet 50 mm
10. Pipet 1 mL
11. Timbangan Analitik
12. Labu ukur 100 mL
13. Erlenmeyer 1 L


PEREAKSI

1. Air Milli-Q

2. H2SO4 (p)

3. Larutan Buffer Ammonia
    Timbang 16,9 gram NH4Cl, larutkan dalam 143 mL Ammonia (p) kemudian encerkan hingga
    250 mL dengan menggunakan air Milli-Q.

4. Larutan Kalium Ferri Sianida
    Timbang 8 gram K3Fe(CN)6 larutkan dalam 100 mL air Milli-Q

5. Larutan 4-aminoantipyrine
    Timbang 2 gram C11H13N3O larutkan dalam 100 mL air Milli-Q

6. Chloroform

7. Larutan Stok Standar Fenol
    Timbang 1 gram fenol, larutkan dalam air Milli-Q bebas Oksigen (1000 g/L)

8. Larutan Standar Kerja
    Pipet 1,0 mL Larutan Stok Standar Fenol, encerkan hingga 100,0 mL dengan air Milli-Q
    (10 ug/L)


PROSEDUR ANALISIS

A.Kalibrasi

Lakukan Kalibrasi dengan menggunakan masing-masing larutan standar kerja Fenol dengan konsentrasi (0, 2, 5, 10, dan 20 ug/mL)

B. Cara Kerja

1. Bilas semua peralatan gelas dengan menggunakan air Milli-Q

2. Siapkan 500 mL sampel, kemudian masukkan ke dalam labu destilasi, tambahkan H2SO4 (p)
    hingga pH kurang dari 4, gunakan pH meter atau kertas pH.

3. Destilasikan hingga semua sampel terdestilasi, tampung hasil destilasi dalam erlenmeyer 1 L

4. Hasil destilasi dituangkan ke dalam labu kocok, tambahkan 10 mL buffer ammonia, 3.0 mL
    larutan 4-aminoantipyrine, 3.0 mL larutan K3Fe(CN)6.

Ektraksi Fenol5. Setelah didiamkan selama 3 menit, ekstrak dengan 25 mL Chloroform, kocok
    labu 10 kali kocokan kemudian diamkan. Kocok kembali labu 10 kocokan, biarkan
    lapisan Chloroform terpisah dari lapisan air. Kemudian hasil ekstraksinya disaring
    dengan kertas saring yang mengandung Sodium sulfat anhidrat dan ditampung
    ke dalam tabung reaksi.

6. Hal yang sama dilakukan terhadap Blanko dan standar.

7. Ukur absorbansi standar dan sampel dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang
    gelombang 460 nm.


PERHITUNGAN

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan kurva regresi linier yang diperoleh dari software spectrofotometer. Tulis hasil pembacaan dala komputer dikalikan dengan faktor pengenceran (jika ada)

Cara Uji Sulfida dalam air dengan ISE Meter

0 comments


PRINSIP

1. Berdasarkan teori analisa kimia, ada tiga kategori sulfida di dalam air yaitu :
    a) Total sulphide (biasanya disebut sebagai ‘sulphide’) termasuk dissolved H2S (hydrogen
        sulphide) dan HS- (ion bisulphide), dan sulfida-sulfida metal yang larut dalam asam yang
        terdapat di dalam air sebagai zat-zat tersuspensi.
    b) Dissolved sulphide termasuk sulfida yang tersisa dari penghilangan zat-zat tersuspensi
        dengan cara flokulasi (pengerjaan ini harus dilakukan sebelum penambahan zat pengawet).
    c) Hydrogen sulphide (tidak terionisasi) dihitung dari konsentrasi sulfida, pH sample, suhu
        dan konduktifitas atau total dissolved solids.

2. Analisa sulfida dalam metoda ini didasarkan pada prinsip hubungan antara potensial
    elektroda ion selektif Perak/Sulfida dengan aktifitas ion sulfida. Pereaksi Alkalin antioksidan
    (SAOB) ditambahkan ke dalam sample dan standar untuk menghambat oksidasi oleh ion
    sulfida atau oksigen dan untuk memberikan kekuatan ion dan pH yang stabil.

INTERFERENSI

Zat-zat pengotor yang terdapat dalam air yang berwarna bereaksi dengan Ag/S Ion Selective Electrode. Oksigen terlarut bisa menyebabkan hasil pembacaan menjadi lebih rendah karena terjadinya oksidasi sulfida.

PERALATAN

1. Ion Selective Electrode (ISE) Meter
2. Magnetic Stirrer berlapis teflon
3. Elektroda kombinasi Perak/Sulfida Orion (atau sejenis)
4. Analytical Balance
5. Centrifuge
6. Beaker Plastik 50 mL
7. Gelas ukur 50 mL
8. Buret 50 mL
9. Mikropipet 1 mL, 5 mL
10. Pipet ukur 5 mL, 10 mL
11. Erlenmeyer 250 mL

PEREAKSI

1. Air Milli-Q

2. Larutan Kadmium Nitrat 0,1 M
    Ditimbang 12,84 gram kadmium oksida (CdO) ke dalam labu ukur 1 Liter, kemudian
    ditambahkan HNO3 pekat, diaduk perlahan dan tambahkan 100 mL Air Milli-Q kemudian aduk
    hingga larut. Tambahkan air Milli-Q hingga volumenya menjadi 1000 mL.

3. SAOB (Sulfide Anhydride Oxidant Buffer).
    Tambahkan 40 gram NaOH dan 300 mL air Milli-Q ke dalam gelas ukur 500 mL, kemudian
    tambahkan 33,5 gram EDTA, lalu aduk hingga rata. Kemudian tambahkan 17,5 gram Asam
    askorbat, aduk hingga larut, kemudian tambahkan air Milli-Q hingga volumenya menjadi
    500 mL. Larutan harus disimpan dalam botol berwarna gelap dan tertutup rapat. Larutan
    kadaluarsa sesudah 6 bulan atau jika warna sudah berubah.

4. Larutan Induk Sodium Sulfida

4.1 Larutkan 10 gram Na2S. 9 H2O ke dalam 10 mL Air Milli-Q, biarkan selama satu malam
    di dalam ruang asam.

4.2 Pipet 1 mL Larutan sodium sulfida jenuh tersebut di atas, lalu tambahkan 50 mL SAOB
    (Sulfide Anhydride Oxidant Buffer) dan larutkan dengan air Milli-Q hingga volumenya menjadi
    100 mL. Larutan ini disebut larutan induk yang akan ditetapkan konsentrasinya, ditetapkan
    sebagai berikut:
    a) Pipet 10 mL larutan induk sulfida dan masukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 mL.
        Tambahkan masing-masing 20 mL larutan iod yang sudah ditetapkan kenormalannya
        (sampai berlebih dan terukur, catat volume iod yang ditambahkan)
    b) Titrasi dengan larutan baku Na2S2O3 yang sudah ditetapkan kenormalannya sampai warna
        kuning muda.
    c) Tambahkan 2-3 tetes larutan indikator kanji sampai timbul warna biru.
    d) Lanjutkan titrasi dengan larutan baku Na2S2O3 sampai warna biru hilang.
    e) Catat pemakaian larutan baku Na2S2O3.
    f) Hitung kadar sulfida dalam larutan induk menggunakan rumus:

    mg/L S = ((A x B) – (C x D) x 1600) / mL larutan induk

Dimana :
A   =   volume total larutan iod yang digunakan (mL)
B   =   Normalitas larutan iod
C   =   Volume larutan Na2S2O3 yang digunakan (mL)
D   =   normalitas larutan Na2S2O3

Catatan:
Larutan yang presisi tidak dapat dibuat secara langsung dengan cara menimbang garamnya karena keberadaan hidratnya yang bervariasi.

5. Larutan Baku Kalium Dikromat, K2Cr2O7, 0,025 N
    Larutkan 1,226 gram K2Cr2O7 (yang sudah dikeringkan pada temperatur 103 0C selama 2 jam)
    dengan 100 mL air milli-Q di dalam labu ukur 1000 mL, kemudian ditambahkan air milli-Q
    sampai tepat pada tanda tera.

6. Larutan Baku Natrium Tiosulfat, Na2S2O3, dengan tahapan sebagai berikut:
    a) Larutkan 6,205 Na2S2O3.5H2O dengan 100 mL air milli-Q di dalam labu ukur 1000 mL,
        tambahkan air milli-Q sampai tepat tanda tera
    b) Tetapkan kenormalan larutan Na2S2O3 dengan tahapan sebagai berikut:
        i) Pipet 20 mL larutan K2Cr2O7 0,025 N dan masukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 mL.
        ii) Tambahkan air milli-Q sampai volume menjadi 100 mL, kemudian tambahkan 2 gram
            serbuk KI murni dan 2 mL H2SO4 4 N.
        iii) Titrasi dengan larutan baku Na2S2O3 0,025 N, sampai berwarna kuning.
        iv) Tambahkan 2-3 tetes larutan indikator kanji sampai timbul warna biru, kemudian
            lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang.
        v) Catat pemakaian natrium tiosulfat untuk perhitungan.

7. Larutan Baku Iod 0,025 N
    a) Larutkan 20-25 gram KI dengan 100 mL air milli-Q di dalam labu ukur 1000 mL, tambahkan
        3,2 gram iod dan air milli-Q sampai tepat pada tanda tera.
    b) Tetapkan kenormalan larutan iod dengan tahapn sebagai berikut:
        i) Ukur 80 mL air milli-Q dan masukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 mL, tambahkan
            masing-masing 1 mL larutan asam sulfat pekat dan 10 mL larutan iod.
        ii) Titrasi segera dengan larutan baku natrium tiosulfat 0,025 N sampai warna kuning.
        iii) Tambahkan 2-3 tetes larutan indikator kanji hingga warna larutan menjadi biru
        iv) Lanjutkan titrasi dengan larutan natrium tiosulfat sampai warna biru hilang.
        v) Catat pemakaian larutan baku natrium tiosulfat untuk perhitungan.

8. Larutan kanji 5%
    Larutkan 1 gram dengan 200 mL air milli-Q, kemudian panaskan sampai mendidih.

9. H2SO4 pekat

10. Larutan asam sulfat, H2SO4, 4 N
    Ukur 60 mL air milli-Q dan masukkan ke dalam gelas ukur 100 mL, tambahkan secara perlahan-
    lahan 10 mL H2SO4 pekat, kemudian tambahkan air milli-Q sampai volume larutan menjadi
    90 mL.

PROSEDUR ANALISIS

A. Kurva Kalibrasi

1. Lakukan pengukuran terhadap larutan stok Sodium Sulfida dengan cara titrasi sebelum
    melakukan kalibrasi.

2. Lakukan kalibrasi 3 titik dengan cara membuat larutan standar berikut:
    a) ambahkan 1 mL larutan stok sulfida ke dalam Labu ukur 100 mL , lalu tambahkan air
        milli-Q hingga volumenya 100 mL. (Larutan Standar A = 0,01 ppm Sulfida x S)
    b) Tambahkan 0,5 mL larutan stok sulfida ke dalam Labu ukur 100 mL , lalu tambahkan air
        milli-Q hingga volumenya 100 mL. (Larutan Standar A = 0,005 ppm Sulfida x S)
    c) ambahkan 0.2 mL larutan stok sulfida ke dalam Labu ukur 100 mL , lalu tambahkan air
        milli-Q hingga volumenya 100 mL. (Larutan Standar A = 0,002 ppm Sulfida x S)

3. Lakukan pengukuran terhadap ketiga standar tersebut dengan cara memipet masing-masing
    10 mL larutan tersebut ke dalam piala gelas 50 mL dan tambahkan 10 mL SAOB, diaduk
    dengan magnetic stirrer dan konsentrasinya diukur dengan elektroda. Rentang Slope
    pengukuran harus berada di antara –25 s/d –35 mv.

B. Cara Kerja

1. Pipet 10 mL sample dan 10 mL SAOB ke dalam 50 mL beaker plastik di atas magnetic stirrer,
    lalu aduk dengan stirrer bar, masukkan elektroda ke dalam larutan tersebut kemudian catat
    angka yang muncul pada display alat (langsung dalam ppm)

2. Bilas elektroda dan beaker gelas dengan air milli-Q, kemudian lakukan pengukuran terhadap
    sample berikutnya, dst.

PERHITUNGAN

Catat nilai yang tertera pada display dan kalikan dengan faktor pengenceran (jika ada)
S2- mg/L = mg/L pembacaan x faktor koreksi

Sunday, 1 November 2015

Cara Uji Silika dalam air

1 comments


PRINSIP

Ammonium molibdat dalam suasana asam dapat bereaksi dengan silika dan juga dengan orto-fosfat yang menghasilkan asam heteropoli. Asam molibdosilikat yang dihasilkan kemudian direduksi dengan asam askorbat menghasilkan suatu senyawa kompleks yang berwarna biru yang absorbansinya diukur pada panjang gelombang 660 nm. Asam oksalat ditambahkan untuk menghilangkan asam molibdofosfat tanpa menghilangkan asam molibdosilikat. Perlu dicatat bahwa silika yang reaktif akan mengeluarkan semua polimer asam silikat (SiO2.H2O) kecuali dimernya.

INTERFERENSI

Karena peralatan gelas dan beberapa pereaksi bisa mengandung silika, maka hindari penggunaan peralatan gelas seminimal mungkin. Tannin, kandungan besi dalam jumlah besar, warna, turbiditas, sulfida dan fosfat dapat mempengaruhi hasil pengukuran. Penambahan asam oksalat akan menghilangkan pengaruh fosfat dan juga mengurangi pengaruh tannin.

PERALATAN

1. Spektrofotometer untuk digunakan pada 540 nm, yang bisa melewatkan cahaya sepanjang
    1 cm atau lebih. Untuk lebih jelasnya, Lihat buku petunjuk penggunaan Spektrofotometer.
2. Pengocok (shaker)
3. Labu ukur plastik
4. Test tube plastik
5. Pipet plastik

PEREAKSI

1. Air Milli-Q

2. Larutan ammonium molibdat
    Larutkan 1 gram ammonium molibdat dengan 100 ml H2SO4 0,1 N, lalu disaring dan disimpan
    dalam botol plastik . Larutan ini harus disimpan pada suhu 4 deg C dan kadaluarsa setelah
    dua minggu.

3. Asam Oksalat
    Larutkan 5 gram asam oksalat dalam 100 ml air milli-q. Larutan ini harus disimpan pada suhu
    4 deg C dan kadaluarsa setelah 3 bulan.

4. Asam Askorbat
    Larutkan 1,76 gram asam askorbat dalam 100 ml air milli-q. Larutan ini harus dibuat baru
    setiap akan melakukan analisa.

5. Larutan induk silika 1000 ppm.
    Larutkan 4,7298 gram sodium metasilika hidrat (Na2SiO3.9H2O) dalam air milli-q, lalu
     encerkan menjadi 1 liter. Larutan ini harus disimpan pada suhu 4 deg C dan kadaluarsa
     setelah 6 bulan.

6. Larutan Induk Kontrol Standar 100 ppm
    Buat Larutan seperti di atas secara terpisah, larutan ini digunakan untuk membuat larutan
    kontrol standar dengan konsentrasi yang lebih kecil. Larutan ini harus disimpan pada suhu
    4 deg C dan kadaluarsa setelah 6 bulan.

PROSEDUR ANALISIS

A. Kalibrasi

Buatlah deret standar dengan menggunakan larutan standar induk 1000 ppm dengan konsentrasi seperti berikut:

   0 ppm (blank)
   1 ppm
   5 ppm
   10 ppm
   25 ppm

B. Cara Kerja

1. Tuangkan 2 ml sampel yang telah disaring (atau standar) ke dalam tabung reaksi.

2. Tambahkan 2,5 ml ammonium molibdat, lalu kocok dengan menggunakan vortex mixer.

3. Tambahkan 1,8 ml asam oksalat, kocok dan tambahkan lagi 2,5 ml asam askorbat, kemudian
    kocok lagi (jarak antara penambahan pereaksi satu dengan lainnya kira-kira ½ menit).

4. Ukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada 660 nm.

PERHITUNGAN

Buat kurva standar dengan memplot absorbansi standar terhadap konsentrasi. Catat konsentrasi Silika sesuai yang diperoleh pada instrument dikalikan dengan faktor pengenceran (jika ada).

Cara Uji Fosfat dalam Air

0 comments


PRINSIP

1. Senyawa-senyawa fosfat yang bisa dideteksi dengan cara kolorimetri tanpa hidrolisis atau oksidasi dengan pemanasan sampel disebut fosfor reaktif atau ortofosfat.

2. Untuk fosfat total menggunakan teknik hidrolisis asam pada suhu didih air atau destruksi/digest dan oksidasi persulfat untuk membebaskan fosfat organik.

3. Amonium molibdat dan Potassium antimonil tartrat bereaksi dengan ortofosfat dalam suasana asam membentuk kompleks antimony-phosphomolibdat. Kompleks tersebut direduksi menjadi sebuah kompleks berwarna biru oleh asam askorbat. Warna biru yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi ortofosfat.

INTERFERENSI

1. Arsenat bereaksi dengan pereaksi molibdat membentuk warna biru yang sama dengan warna yang dihasilkan oleh fosfat. Pada konsentrasi sekitar 0.1 mg/L As dapat mengganggu penetapan fosfat.

2. Krom valensi enam dan NO2 mengakibatkan hasil penetapan fosfat menjadi lebih rendah sekitar 3% pada konsentrasi 1 mg/L dan 15% pada konsentrasi sekitar 10 mg/L.

3. Jika sampel keruh setelah pewarnaan, bisa disaring sebelum dilakukan pembacaan dengan spektrofotometer tetapi harus dilakukan juga analisa spike untuk meyakinkan bahwa fosfatnya masih ada di dalam sampel.

4. Untuk sampel-sampel yang berwarna atau sangat keruh, lakukan koreksi blanko dengan menggunakan pereaksi saja pada larutan blanko. Koreksi blanko jika digunakan untuk penetapan total fosfat dan fosfat terlarut juga harus melalui proses digest. (Catatan : Sebagian endapan akan larut dengan penambahan pereaksi warna-koreksi blanko tidak diperlukan dalam hal ini).

PERALATAN

1. UV/Visible Spectrophotometer
2. HACH Disgestion Block
3. Labu ukur 100 mL
4. Gelas ukur 100 mL
5. Labu ukur 50 mL
6. Pipet Analitik

PEREAKSI

1. Air Milli-Q, saring ulang dengan saringan Millipore sterile 0.22 µm.

2. Larutan Asam Sulfat 5N
Tambahkan secara hati-hati 70 mL asam sulfat pekat ke dalam 400 mL air Milli-Q ke dalam labu ukur 500 mL. Biarkan menjadi dingin setelah itu baru tambahkan lagi air Milli-Q hingga volumenya menjadi 500 mL.

3. Potasium Antimonil Tartrat
Larutkan 1.3715 gram K(SBO)C4H4O6.1/2H2O dengan 400 mL air Milli-Q ke dalam labu ukur 500 mL, kemudian tambahkan lagi air Milli-Q hingga volumenya menjadi 500 mL. Larutan harus disimpan dalam botol berwarna gelap pada suhu 4oC.

4. Ammonium Molibdat
Larutkan 20 gram (NH4)6Mo7O24.4H2O dengan 400 mL air Milli-Q ke dalam labu ukur 500 mL, kemudian tambahkan lagi air Milli-Q hingga volumenya menjadi 500 mL. Larutan ini harus disimpan di dalam botol berwarna gelap pada suhu 4oC.

5. Asam Askorbat
Larutkan 1,76 gram asam askorbat ke dalam 100 mL air Milli-Q. Larutan ini harus dibuat setiap akan melakukan analisa.

6. Pereaksi Warna Campuran
Hitung berapa banyak pereaksi yang dibutuhkan. Campurkan pereaksi-pereaksi yang akan dipakai berdasarkan urutan berikut:

Urutan Pereaksi Volume
1 H2SO4 5N 0.50V
2 Potasium antimonil tartrat 0.05V
3 Amonium molibdat 0.15V
4 Asam askorbat 0.30V

Catatan : V = Volume Pereaksi Gabungan yang diperlukan Kocok setelah penambahan setiap pereaksi. Biarkan semua pereaksi dingin pada suhu ruang sebelum mereka dicampur dan aduk sesuai dengan urutan di atas. Jika terjadi kekeruhan dalam pereaksi gabungan tersebut, kocok dan biarkan beberapa menit sampai kekeruhannya hilang. Pereaksi ini hanya stabil selama 4 jam.

7. Pereaksi Koreksi Blanko (Background) Hitung berapa banyak perekasi yang diperlukan (2.4 mL per sampel). Campurkan pereaksi-pereaksi berdasarkan urutan di bawah ini:

Urutan Pereaksi Volume
1 H2SO4 5N 0.50V
1 Potasium antimonil tartrat 0.05V
3 Air Milli-Q 0.45V

Catatan : V = Volume Pereaksi campuran yang diperlukan Kocok setelah penambahan setiap pereaksi. Biarkan semua pereaksi dingin pada suhu ruang sebelum dicampurkan berdasarkan urutan di atas. Jika terjadi kekeruhan dalam pereaksi campuran tersebut, kocok dan biarkan selama beberapa menit hingga kekeruhan tersebut hilang. Pereaksi ini stabil selama 4 jam.

8. Larutan Asam Sulfat 1:1 Campurkan 50 mL asam sulfat pekat dengan 50 mL Air Milli-Q.

9. NaOH 10 N Larutkan 40 gram NaOH ke dalam 100 mL Air Milli-Q

10. Ammonium Persulfat Dapat diperoleh secara komersial.

11. Larutan Induk Fosfat
Larutkan 0,2195 gram KH2PO4 yang sudah dikeringkan selama satu jam pada suhu 105 oC, ke dalam labu ukur 1 Liter. Kemudian tambahkan air Milli-Q hingga volumenya menjadi 1 Liter. (1 mL = 50.0 ug PO4-P) larutan ini harus disimpan pada suhu 4oC dan kadaluarsa setelah satu bulan.

12. Larutan Standar Fosfat 1 ppm
Pipet 2,00 mL larutan standar induk fosfat ke dalam 100 mL air Milli-Q. Larutan ini harus dibuat setiap akan melakukan analisa.

PROSEDUR ANALISIS

A. Kalibrasi

1. Lakukan kalibrasi dengan mempersiapkan kurva kalibrasi dari larutan standar seperti berikut ini:

Standar (dalam ug) Volume std yang dipipet (mL) Volume air Milli-Q yang ditambahkan (mL)
Blank 0 15.0
0.1 0.1 14.9
0.5 0.5 14.5
1.0 1.0 14.0
3.0 3.0 12.0
5.0 5.0 10.0

2. Tambahkan pada masing-masing standar 2.4 mL Pereaksi campuran, kemudian aduk dan tunggu sampai 10 menit. Kemudian dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 690 nm dengan menggunakan kuvet 50 mm.

B. Pengukuran Sampel Uji Analisa Ortofosfat

1. Bilas tabung reaksi dengan menggunakan HCl encer, lalu bilas sampai bersih dengan air Milli-Q kemudian keringkan.

2. Untuk sampel orthofosfat tuangkan 15 mL sampel yang sudah disaring ke dalam tabung reaksi

3. Untuk sampel total fosfat tuangkan 15 mL sampel yang belum disaring yang sebelumnya telah dikocok terlebih dahulu.

4. Tambahkan 0.2 mL asam sulfat 1:1 ke dalam sampel total dan dissolved fosfat

5. Tambahkan kurang lebih 0.1 gram ammonium persulfat padat dengan memakai sendok kecil ke dalam semua sampel yang akan diukur.

6. Tempatkan tabung reaksi yang berisi sampel ke dalam Digestion Block pada suhu 100 oC selama setengah jam. Tutup tabung reaksi tersebut dengan penutup kaca.

7. Setelah setengah jam, angkat tabung reaksi tersebut dari digestion block. Lalu tambahkan masing-masing 2.4 mL pereaksi campuran, kemudian aduk dan tunggu 10 menit.

8. Dinginkan pada suhu ruang, lalu tambahkan indikator beberapa tetes PP, kemudian tambahkan beberapa tetes NaOH 10 N hingga warnanya menjadi pink.

9. Kemudian diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 690 nm.

10. Warna yang terbentuk hanya stabil selama 30 menit.

PERHITUNGAN

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan kurva regresi linier yang diperoleh dari software spectrophotometer.
Perhitungan Fosfat

Dimana: V = volume sampel (mL) = 15 mL

Cara Uji Klorida dalam Air

3 comments


PRINSIP

Ion klorida dalam sampel beraksi dengan merkuri tiosianat untuk membentuk merkuri klorida dan membebaskan ion tiosianat. Ion tiosianat bereaksi dengan ion besi (III) untuk membentuk sebuah kompleks besi(III) tiosianat, intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi klorida.

INTERFERENSI

Kekeruhan dan warna sampel dapat mengganggu penetapan. Tiosianat yang terdapat dalam sampel bisa menyebabkan hasil pengukuran menjadi lebih besar dari sebenarnya..

PERALATAN

1. Spectrofotometer dengan panjang gelombang 480 nm.
2. Pipet Volumetrik 15 mL dan tabung reaksi
3. Labu Ukur 50 mL dan 100 mL

BAHAN

1. Air Milli-Q

2. Ferric Nitrate
Larutkan 20,2 gram Ferric Nitrate (Fe(NO3)3.9H2O) dalam kira-kira 20 mL air Milli-Q. Tambahkan 2,1 mL asam nitrat pekat dan encerkan menjadi 100 mL dengan air Milli-Q. Saring dan masukkan ke dalam botol berwarna gelap. Larutan ini harus disimpan pada suhu ruang dan kadaluarsa sesuadah 3 bulan.

3. Mercuric Thiocyanate
Larutkan 0,417 gram mercuric thiocyanate (Hg(SCN)2) dalam kira-kira 50 mL methanol. Encerkan menjadi 100 mL dengan methanol. Saring dan masukkan ke dalam botol berwarna gelap. Larutan ini harus disimpan pada suhu ruang dan kadaluarsa sesudah 3 bulan.

4. Pereaksi Warna.
Campurkan dengan volume yang sama (masing-masing 15 mL) of ferric nitrate dengan mercuric thiocyanate dan encerkan menjadi 100 mL dengan air Milli-Q. larutan ini harus dibuat setiap akan melakukan analisa dan harus disimpan pada suhu ruang.

5. Larutan Standar klorida 1000 mg/L
Buat Larutan standar klorida seperti berikut:
Larutkan 1,6482 gram NaCl (yang telah dipanaskan pada 1400C) dalam air mili-q dan encerkan menjadi 1000 mL. Larutan ini harus disimpan pada suhu ruang dan kadaluarsa setelah 6 bulan.

PROSEDUR ANALISIS

A. Kurva Kalibrasi

Buat larutan 2 deret standar Cl- masing-masing 0.5, 1, 2, 5, 10 mg/L dan 10, 20, 30, 40, 50 mg/L dari larutan Cl-

B. Cara Kerja

Masukkan 1 mL sampel ke dalam tabung reaksi dan tambahkan 4 mL pereaksi warna ke dalam sampel tersebut, lalu kocok. Biarkan selama 5 menit kemudian ukur absorbansinya dengan spectrophotometer pada panjang gelombang 480 nm dengan menggunakan kuvet 10 mm.


PERHITUNGAN

Buat kurva standar dengan memplot absorbansi standar terhadap konsentrasi. Catat nilai Cl- sesuai yang diperoleh pada instrumen (spektrofotometer) dikalikan dengan faktor pengenceran (jika ada).


REAKSI KIMIA


Reaksi Kimia

Cara Uji Cyanide (Sianida)

4 comments


PRINSIP

Sianida sebagai asam hidrosianat (HCN) dilepaskan dari kompleks sianida dengan cara destilasi dalam suasana asam dan diserap oleh larutan natrium hidroksida. Ion sianida dalam larutan penyerap diubah menjadi sianogen klorida (CNCl) oleh reaksi dengan Chloramine-T, yang kemudian bereaksi dengan piridin dan asam barbiturat untuk membentuk komplek yang berwarna merah kebiru-biruan. Warna yang terbentuk diukur serapannya pada panjang gelombang 578 nm.

INTERFERENSI

1. Zat-zat oksidator
2. Sulfur dan senyawa-senyawa sulfide
3. Aldehid, glukosa dan gula-gula lainnya
4. Karbonat
5. Asam-asam lemak
6. Warna
7. Kekeruhan

PERALATAN

1. Alat destilasi
2. Spektrofotometer
3. Pemanas
4. Pompa penghisap
5. Alat-alat gelas

PEREAKSI

1. Air Milli-Q

2. Hidroksilamin Hidroklorida – HCl
    Larutkan 100 gram NH2OH.HCl dalam 400 mL air Milli-Q dan 500 mL HCl pekat. Encerkan
    menjadi 1 L dengan air Milli-Q. Larutan ini harus disimpan pada suhu ruang dan
    kadaluarsa setelah 3 bulan.

3. Asam Amido Sulfonat 4 %
    Larutkan 40 gram H2NSO3H dalam 1 L air Milli-Q. Larutan ini disimpan pada suhu ruang dan
    kadaluarsa setelah 3 bulan.

4. Natrium Hidroksida 0,2 N
    Larutkan 8 gram NaOH dalam 1 L air Milli-Q. Larutan ini disimpan pada suhu ruang dan
    kadaluarsa setelah 3 bulan.

5. Natrium Hidroksida 0,1 N
    Larutkan 4 gram NaOH dalam 1 L air Milli-Q. Larutan ini disimpan pada suhu ruang dan
    kadaluarsa setelah 3 bulan.

6. Kloramin-T
    Larutkan 1 gram Kloramin T (CH3C6H4.N(Na)Cl.3H2O) dalam 100 mL air Milli-Q. Larutan ini
    harus dibuat setiap melakukan analisa dan disimpan pada suhu ruang.

7. Larutan Indikator Pyridin – Asam Barbiturat
    Larutkan 15 gram Asam Barbiturat (C4H4N2O3) dalam 200 mL air Milli-Q, tambahkan 15 mL
    H2SO4 p dan 75 mL Pyridin, encerkan sampai 500 mL dengan air Milli-Q. Larutan ini disimpan
    dalam lemari pendingin dan kadaluarsa setelah 3 bulan.

8. Laturan Buffer Acetat
    Larutkan 410 gram (CH3COO)Na (Sodium Acetat) dalam 200 mL air Milli-Q, atur pH hingga 4,5
    dengan Asam Acetat glacial. Encerkan sampai 1L dengan air Milli-Q. Larutan ini disimpan pada
    suhu ruang dan kadaluarsa setelah 3 bulan.

9. Larutan Standar Perak Nitrat (AgNO3)
    Larutkan 1,8658 gram AgNO3 dalam 500 ml air Milli-Q. Larutan ini harus di simpan dalam botol
    berwarna gelap pada suhu ruang dan kadaluarsa setelah 3 bulan.

10. Larutan standar Natrium Klorida 0,0141 M
      Larutkan 0,8240 gram NaCl dalam 1 liter air Milli-Q. Larutan ini harus disimpan pada suhu
      ruang dan kadaluarsa setelah 3 bulan.

11. Larutan Indikator Kalium dikromat
      Larutkan 50 gram K2Cr2O7 dalam sedikit air Milli-Q, tambahkan larutan perak nitrat hingga
      terbentuk endapan merah. Diamkan selama 12 jam, kemudian saring dengan kertas saring
      no. 41, kemudian encerkan hingga 1L dengan air Milli-Q.

12. Larutan Standar Induk 1000 mg/L CN-
      Larutkan 1,255 gram KCN (yang telah dipanaskan dan disimpan di desikator selama 24 jam)
      dalam 400 mL 0,1 N NaOH lalu diencerkan menjadi 500 mL dengan 0,1 N NaOH. Larutan ini
      harus disimpan pada suhu ruang dan harus distandardisasi tiap minggu. Jika konsentrasinya
      di luar batas + 10% dari nilai semula, maka dibuat larutan baru.

13. Larutan Standar spike 100 mg/L CN-
      Pipet 10 mL larutan standar induk, encerkan sampai 100,0 mL dengan NaOH 0,1 N. Larutan
      ini harus disimpan pada suhu ruang dan harus distandardisasi tiap minggu. Jika
      konsentrasinya di luar batas + 10% dari nilai semula, maka dibuat larutan baru.

14. Larutan Bahan Acuan (Reference Material)
      Larutan ini dapat diperoleh secara komersil.

15. Larutan Standar Kerja CN- 1 mg/L
      Pipet 1,0 ml Larutan Standard spike CN- (100 mg/L) ke dalam labu ukur100 mL lalu encerkan
      menjadi 100 ml dengan larutan NaOH 0,1 N

16. Larutan Deret Standar
      Buat deret standar (dengan volume masing masing 1 mL) dengan menggunakan larutan
      standar CN- 1 mg/L sesuai dengan tabel berikut (Gunakan NaOH 0,1 N untuk pengencernya):

TABEL-1
CN- (ug) Volume std CN- 1 mg/L yang diperlukan (mL) Volume total (mL)
0 0 10
0.5 0.5 10
1.0 1.0 10
2.0 2.0 10
3.0 3.0 10
4.0 4.0 10

Kandungan sebenarnya dari CN- (ug) daalam deret standar tersebut dapat dihitung dengan rumus berikut:

Kandungan CN- (ug) = Konsentrasi standar kerja (mg/L)x volume standar kerja (mL)

PROSEDUR ANALISIS

A. Standarisasi

1. Standardisasi Larutan AgNO3
    Titrasi 10 mL larutan standar NaCl dengan AgNO3 dengan indikator kalium kromat sampai titik
    akhir berwarna coklat-merah.

Konsentrasi AgNO3 (N) = (0,0141 N x 10 mL) / mL AgNO3

(silahkan baca : Standardisation of Silver Nitrate)


2. Standardisasi Larutan Standar Induk CN-
    Titrasi 10 mL larutan Induk 1000 mg/L CN- dengan larutan AgNO3 dengan indikator rodanin
    sampai titik akhir berwarna merah-salmon.

Konsentrasi CN- (mg/L) =( mL AgNO3 x (1000 x N AgNO3/0,0192)) / 10 mL

(silahkan baca : Standardisation of stock Cyanide Solution)


B. Kalibrasi Deret Standar CN-

Buat larutan deret standar CN- sesuai dengan Tabel-1, kemudian lakukan pengukuran absorbansi dengan menggunakan spektrophotometer pada panjang gelombang 578 nm.

C. Cara Kerja

1. Destilasi

a. Susun peralatan destilasi sesuai dengan gambar di halaman berikut, lalu buka kran air
    pendingin dan hidupkan pompa vakum.

b. Tambahkan 50 mL NaOH 0,2 N ke dalam tabung reaksi (lihat gambar). Masukkan Glass Frit
    tube dan atur hisapan vakum sehingga terbentuk gelembung-gelembung
    udara minimum sebanyak 1 gelembung per detik.

c. Tuangkan 500 mL sampel ke dalam labu didih (jika volume sampel kurang dari 500 mL,
    tambahkan air Milli-Q hingga volumenya mencapai 500 mL.

d. Masukkan Thistle Tube dan yakinkan ada gelembung udara minimum 1 gelembung per detik.
    Batas volume sampel harus tetap berada di bawah garis tengah thistle tube tersebut.

e. Tambahkan 50 mL larutan asam amido sulfonatt ke dalam labu didih tersebut (lihat gambar).

f. Tambahkan 25 mL hidroksilamin hidroklorida-HCl melalui thistle tube tersebut dan bilas
    dengan air Milli-Q.

g. Nyalakan heating mantle, lalu didihkan sampel selama satu setengah jam, kemudian
    dinginkan dengan mematikan heating mantle.

h. Buka semua tabung reaksi dan tambahkan air Milli-Q ke dalam tabung reaksi tersebut hingga
    volumenya mencapai 100 mL.

i. Pindahkan isi tabung reaksi tersebut ke dalam botol plastik. Jika pengukuran absorbansi akan
    dilakukan pada esok harinya, simpan botol beserta isinya pada suhu 4oC. Pengukuran harus
    dilakukan sebelum 24 jam.

j. Bilas semua gelas kimia yang digunakan dengan menggunakan larutan HCl encer lalu bersihkan
    dengan air Milli-Q.





Alat destilasi Cyanide

Gambar 1. Susunan Peralatan Destilasi Sianida ( EPA method 9010b)

Catatan:

* Pada saat menghidupkan pompa vakum, yakinkan bahwa semua selang sudah dipasang dengan
   benar dan aman.

* Pada saat 15-20 menit pertama dari proses pemanasan, sangat kritis untuk mengatur hisapan
   vakum dan untuk mencegah meluapnya isi labu didih. Tanpa hisapan yang kuat, isi labu didih
   akan meluap dan keluar dari thistle tube. Sampel harus dididihkan minimum selama satu jam.

* Adanya sulfida dengan terjadinya perubahan warna menjadi oranye dari hasil destilasi akan
   menyebabkan interferensi negatif dengan mengubah CN- menjadi SCN-. Untuk sampel dengan
   kadar sulfida yang tinggi, untuk menghilangkan sulfida secara efektif, maka jumlah cuplikan
   destilat harus dikurangi, namun intensitas warnanya akan meningkat. Beberapa perlakuan
   mungkin diperlukan untuk mengatasi hal tersebut.

2. Teknik Pewarnaan

a. Pipet 10 ml sampel, Standar dan Larutan blanko NaOH kedalam tabung reaksi.

b. Tambahkan 2 ml (gunakan autopipet) Larutan Buffer Asetat kedalam seluruh tabung reaksi.

c. Tambahkan 0,4 mL (gunakan autopipet) Larutan Chloramine-T, kemudian tutup tabung reaksi
    dan kocok sampai homogen.

d. Tunggu sampai 2 menit, kemudian tambahkan 1 ml Indikator piridine-Asam Barbituric, tutup
    kembali dan kocok sampai homogen, biarkan selama 30 menit sampai pewarnaan sempurna.

e. Baca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 578 nm dengan kuvet 5 cm


PERHITUNGAN

Buat kurva standar dengan memplot absorbansi standar terhadap konsentrasi. Catat Nilai CN- sesuai yang diperoleh pada insrument lalu dihitung dengan rumus berikut:





Dimana:
Vf   =   volume akhir larutan pengabsorb NaOH 0,1 N (mL) = 100 mL
Vs   =   volume awal sampel untuk destilasi (mL) = 500 mL
Va   =   volume sampel yang dipipet untuk pewarnaan (mL) = 10 mL

 

Sampling & Analisis Copyright © 2013
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger